Salah satu fenomena yang terjadi dalam dunia pendidikan dan masyarakat seolah-olah menuntut ilmu manakala diuraikan sekitar permasalahan adab, menghormati dan memuliakan guru, seolah itu hanya untuk “khusus” didunia dayah (baca: belajar ilmu agama), padahal persoalan itu berlaku di semua jenjang, strata dan lembaga pendidikan serta tidak terkhusus dayah saja.

Para penuntut ilmu yang mampu mengaplikasikan anjuran untuk menghormati dan memuliakan guru serta hal lain yang berkaitan dengannya baik di sekolah, dayah, perguruan tinggi maupun lembaga pendidikan lainnya tentu saja keberkahan ilmu dan ridha Allah SWT akan menjemput mereka juga sebaliknya.

Ada juga sebagian penunutut ilmu yang masih berasumsi yang layak di hormati itu hanya guru dayah (baca: guru pengajian agama)sedangkan guru sekolah atau dosen “boleh-boleh” saja tidak dihormati karena tidak “teumerka” (binasa). Jelas ini persepsi yang keliru dan harus di luruskan oleh muallim (guru) sehingga para penuntut ilmu tidak salah kaprah dan tidak wariskan kepada generasi selanjutnya.

Esensi guru itu sama baik di lembaga sekolah, dayah maupun perguruan tinggi, kewajiban kita sebagai penuntut ilmu untuk menghormati sang muallim (guru). Apabila kita telusuri bagaimana sikap yang ditunjukkan oleh saidina Ali bin Abi Thalib RA yang pernah menyebutkan, “Siapa yang pernah mengajari saya satu huruf saja, maka saya siap menjadi budaknya.”

Jelaslah pelajaran yang dapat dipetik dari kisah tersebut, sekecil apa pun ilmu yang didapat dari seorang muallim, kita berkewajiban menghormati dan tidak boleh diremehkannya.

Dalam kisah lain di sebutkan Imam Syafi’i pernah membuat suasana jamaah terkagum-kagum, beliau spontan saja mencium tangan dan memeluk seorang lelaki tua. Lantas yang melihatnya merasa heran dan akhirnya sahabat bertanya, “kenapa seorang imam besar rela mencium tangan seorang laki-laki tua? Seharusnya masih banyak ulama yang lebih pantas dicium tangannya daripada sosok lelaki tua itu?”

Imam Syafi’i menjawab, “Pada masa dulu saya pernah menanyakan kepada beliau, bagaimana mengetahui seekor anjing berusia baligh?Lantas orang tua tersebut menjawab, “apabila engkau melihat anjing itu kencing dengan mengangkat sebelah kakinya, menandakan dia telah baligh”. Dua kisah di atas menunjukkan sikap menghormati dan menghargai ilmu dan ahlinya siapapun dia.

Di sini terlihat akan membedakan dunia pendidikan itu bukan hanya transfer ilmu saja (Transfer of knowledge) namun  juga memberikan pengaruh rohaniah baik etika, keadabadan serta tauladan yang baik (transfer of spiritual) terhadap thalibul ilmi. 

Namun apabila kedua unsur ini baik transfer of spiritual maupun Transfer of knowledge berhasil di integrasikan dan realisasikan di lembaga pendidikan kita, tentunya wajah dunia tarbiyah kita akan memberikan kontribusi yang sangat besar dalam menjawab tantangan zaman di era globalisasi ini di saat degradasi moral, akhlak dan etika generasi penerus bangsa ini semakin brobok dan memprihatinkan menuju perbaikan dan kebaikan demi hari esok yang cerah dan lebih baik. Semoga….!!![]