Oleh: Azhar Ilyas

DAYAH Daboh merupakan salah satu gampong atau desa di Kecamatan Montasik, Kabupaten Aceh Besar. Salah satu gampong yang mempertahankan usaha kerajinan bordir motif Aceh yang telah berkembang sejak tahun 1989. Meskipun sempat mengalami masa pasang surut.

Dewasa ini seiring membaiknya pariwisata Provinsi Aceh, khususnya pascarehabilitasi dan rekonstruksi setelah tsunami dan perdamaian Aceh, industri kerajinan budaya khas Aceh kembali menggeliat.

Beragam tas, dompet dan asesoris dengan motif khas Aceh, kerawang Gayo, maupun aneka motif kreasi lainnya dengan mudah ditemui di Gampong Dayah Daboh. Desa kerajinan ini berlokasi sekitar 18 kilometer dari pusat Kota Banda Aceh dan hanya berjarak tiga kilometer dari Tugu Pesawat Simpang Aneuk Galong Kecamatan Sukamakmur, Aceh Besar.

Salah satu penggerak yang aktif dalam mempromosikan usaha rumah tangga kerajinan di Gampong Dayah Daboh ini bernama Ermawati. Belum lama ini saya bersama beberapa teman menyempatkan diri main ke rumahnya di Dayah Daboh. Kedatangan kami disambut hangat oleh Ibu Ermawati. Ia turut memperkenalkan kami pada sejumlah pengrajin yang tidak lain merupakan warga setempat. Di sini, para pengrajin memanfaatkan rumah-rumah mereka sebagai tempat produksi sekaligus tempat memajang hasil kerajinan untuk dijual kepada konsumen.

Ermawati berkisah, di tahun 1992, dua bulan setelah pernikahan dengan Zahri yang kini menjadi suaminya, Ermawati mengikuti suaminya kembali ke kampung halamannya di Dayah Daboh. Sebelumnya ia menetap di Padang, Sumatera Barat. Perempuan kelahiran Padang, 3 November 1969 ini sejak kecil telah mendapat pengalaman berbisnis dengan menemani orang tua beliau berjualan kue. Instingnya dalam dunia bisnis kemudian membuatnya tertarik menggeluti industri kerajinan tas bordir Aceh yang menjadi mata pencahariannya.

Mulanya, perempuan yang akrab disapa Erma itu menawarkan diri membantu tetangganya yang bernama Irawati yang saat itu sedang melahirkan. Erma menawarkan diri untuk mengantarkan hasil kerajinan milik Irawati ke Kota Banda Aceh.

Erma kemudian mulai bekerja sebagai penjahit tas bordir motif Aceh. Dua tahun berselang, alumni SMA PGRI ini membulatkan tekad untuk membuka usahanya sendiri. Modal usaha pertamanya saat berdikari pada 1994 hanya senilai Rp 75.000 hasil menjual emas simpanannya.

Lebih lanjut, pada 1996 Erma melakukan ekspansi usaha. Ia mulai mengantarkan pesanan tas kerajinan kepada langganannya di Medan. Tekanan krisis moneter pada pertengahan 1998 membuat pasokan tas kerajinan hasil usahanya terhenti.

Suka duka adalah teman dalam kehidupannya. Begitu pun perjalanan usaha Erma yang juga mengalami masa pasang surut. Masa konflik sejak akhir 1999 disusul musibah tsunami pada 2004 sempat mempengaruhi perekonomian industri yang terkait erat dengan bidang kebudayaan dan pariwisata ini.

April 2008, Erma mulai bekerja pada Workshop Sentra Industri Kecil dan Menengah milik Dekranasda Aceh Besar. Di workshop tersebut, Erma pernah menempati berbagai posisi mulai dari Bidang Quality Control hingga Koordinator Pengrajin dan Manajer Pemasaran. Pengalaman tersebut menjadi bekal baginya sekaligus dalam memperluas jaringan koneksi usaha.

Enam tahun mengabdi pada workshop Dekranasda, ibu dari tiga anak ini kemudian kembali fokus mengelola usaha kerajinan miliknya. Sejak 2014, berbekal modal usaha dari tabungan keluarganya, bantuan dana aspirasi sebesar Rp 30 juta, Erma mendatangkan sejumlah alat produksi baru termasuk beberapa unit mesin finishing.

Bersama kesulitan ada kemudahan, di sebalik ujian tersimpan suatu hikmah jua. Kini usaha kerajinan bordir motif nuansa etnik Aceh milik Ermawati kembali bersinar. Berbagai jenis tas produksi Gampong Dayah Daboh, Aceh Besar kini telah dapat memenuhi pesanan dari sejumlah toko souvenir di Banda Aceh.

Sejak 2015, Erma telah dapat menyewa sebuah ruko di kawasan strategis di Jalan Banda Aceh Medan Km. 14,5 Simpang Aneuk Galong, Kecamatan Sukamakmur, Aceh Besar sebagai galeri hasil produksinya. Di galeri Riska Souvenir, nama yang diambil dari nama putrinya itu Erma memajang hasil produksi para pengrajin di Aceh Besar mulai dari tas, dompet dan aneka asesoris dengan ragam corak motif Aceh, Gayo, dan aneka motif kreasi. Selain berkreasi dengan desain, jenis tas dan aksesoris yang ditawarkan pun beragam.

Aneka desain motif khas Aceh seperti motif Awan Diris (awan berarak), Awan Dong (awan berdiri), Pinto Aceh, motif Kerawang Gayo, Bungong Meulu dan masih banyak lagi ditampilkan dalam tas kerajinan bordir tersebut. Ermawati juga tidak sungkan berkreasi dengan motif yang sudah ada antara lain dengan motif Bungong Meulu.

Adapun jenis tas yang ditawarkan beragam untuk menjawab berbagai selera dan kebutuhan konsumen. Tas-tas tersebut diberi nama menurut kreasi Erma, misalnya Tas Floretta, Tas Elizabeth, Tas Mambo, Tas Sofie, Tas Labu, Tas Aurora, Tas Speedy dan Tas ABG.

Belum lama ini Gampong Dayah Daboh memperoleh anugerah sebagai juara pertama Desa Kerajinan se-Provinsi Aceh. Penghargaan ini diberikan dalam event Pameran Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) se-Aceh yang digelar di Subulussalam pada November 2015 lalu.

Ditanya tentang impiannya ke depan, Ermawati berharap intensitas pembinaan yang berkelanjutan baik dalam hal pemasaran maupun produksi bagi para pengrajin di Banda Aceh dan Aceh Besar khususnya Provinsi Aceh pada umumnya.

Erma juga mengharapkan barang-barang kerajinan daerah Aceh dapat berdaya menembus pasar Internasional. Sehingga tak hanya bertindak sebagai penonton namun juga pemain di era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) dewasa ini.[] (ihn)

Penulis adalah Penggagas Komunitas I Love Songket Aceh (ILSA) dan anggota Forum Lingkar Pena (FLP) Banda Aceh.