LHOKSUKON – Rakyat Aceh jangan mengkhianati perjuangan dan pengorbanan masa lalu. Hari ini rakyat Aceh telah memasuki perang politik, yang pada dasarnya tidak berbeda dengan perang senjata yang telah berlalu. Hal itu disampaikan Jubir KPA/PA Pase, M. Jhony dalam sambutannya di acara peringatan Milad ke 40 GAM, di Pante Breuh, Kecamatan Baktiya, Aceh Utara, Minggu, 4 Desember 2016.
Jhony mengajak rakyat Aceh untuk mengenang para syuhada yang telah berpulang kepada Allah atas perjuangannya di masa lalu. “Hari ini kita mengingat perjuangan 40 tahun lalu. Mari kita renungkan pengorbanan rakyat Aceh yang telah menumpahkan darahnya. Jangan lupakan bagaimana tragedi Arakundo, tragedi Beutong, dan tragedi KKA yang telah membuat rakyat Aceh terluka, bukan rakyat lain. Jangan pernah lupakan apa yang terjadi 11 tahun lalu,” ujarnya.
Panglima Muda Daerah Tgk. Chik di Tunong itu menambahkan, hari ini rakyat Aceh sudah memasuki era perang politik. kata dia, pada dasarnya itu tidak berbeda dengan perang senjata yang telah berlalu. Apa yang telah dikorbankan di masa lalu adalah amanah rakyat, perintah rakyat dan untuk rakyat. Perang politik itu adalah perang lama, bukan perang baru.
“Jangan pernah khianati apa yang telah dikorbankan di masa lalu. Calon yang kita usung saat ini adalah pejuang masa lalu. Dulu saat kita menangis bersama, yang lain hanya jadi penonton. Mari kita renungkan kembali pengorbanan masa lalu. Hari ini saya bukan ingin membuka luka lama, tapi hanya mengingatkan bahwa kita pernah terluka. Mari sama-sama menjaga perdamaian agar kejadian lalu tidak terulang lagi,” ucapnya.
Jhony mengajak rakyat Aceh mengenang para syuhada dan mengingat perjuangan 40 tahun lalu. “Mari kita renungkan pengorbanan rakyat Aceh yang telah menumpahkan darah. Jangan lupakan itu,” katanya.[]


