BANDA ACEH – Sepuluh jurnalis warga (JW) di Banda Aceh mendapatkan pembekalan terkait isu-isu kepemiluan dan keterampilan jurnalistik dalam workshop bertema “Warga Berdaya Pelopor Pemilu Jujur dan Adil”, yang berlangsung pada Rabu-Kamis, 5-6 Oktober 2022.
Workshop ini menghadirkan empat narasumber. Hari pertama tampil Komisioner KIP Aceh, Tgk. Akmal Abzal, membawakan topik “Pemilu Berkeadilan”, dan Direktur Eksekutif LSM Flower Aceh, Riswati, mengangkat tajuk “Pemilu yang Inklusif dan Humanis”. Hari kedua, Koordinator Forum Aceh Menulis, Hayatullah Pasee, menyampaikan materi tentang “Teknik Menulis dan Meliput Karya Jurnalis Warga”, dan Yarmen Dinamika dari Serambi Indonesia memaparkan materi tentang “Kode Etik dan Keselamatan Jurnalis Warga Meliput Isu Pemilu”.
Koordinator Jurnalis Warga Banda Aceh, Ihan Nurdin, mengatakan workshop ini rangkaian awal dari kegiatan yang didukung Perhimpunan Pengembangan Media Nusantara (PPMN) berkolaborasi dengan Perludem untuk program The Asia-Pasific Regional Support for Election and Political Transitions (RESPECT) hingga Januari 2023. Sepuluh warga yang direkrut berasal dari berbagai latar belakang seperti mahasiswa, ibu rumah tangga, guru, pekerja sosial, hingga bloger.
“Pembekalan ini menjadi penting bagi para jurnalis warga untuk memahami isu-isu pemilu, khususnya dalam menyongsong Pemilu 2024, dan pentingnya memiliki dasar keterampilan jurnalistik sebelum melakukan tugas-tugas jurnalistik di lapangan,” ujar Ihan.
Ihan menyebut partisipasi masyarakat sangat dibutuhkan untuk mendorong terwujudnya sistem demokrasi yang lebih baik di Indonesia, khususnya di Aceh. Selama ini, masyarakat cenderung bersikap pasif dalam menyambut hajatan demokrasi yang dihelat setiap lima tahun sekali, baik itu di tingkat pemilihan kepala daerah maupun legislatif. Namun, sikap pasif itu juga bisa disebabkan kurangnya akses informasi maupun ruang bersuara bagi masyarakat, terutama yang tergolong dalam kelompok rentan.
Oleh karena itu, dengan menggiatkan aktivitas jurnalis warga yang dipelopori tiap-tiap individu bisa menjadi wadah bagi warga untuk berpartisipasi dalam pesta demokrasi mulai dari pra, saat, dan sesudah pemilu berlangsung. Tulisan-tulisan jurnalis warga bisa dipublikasikan di berbagai platform seperti kanal-kanal jurnalis warga di media arus utama, blog, media sosial, atau website komunitas/gampong.
Akmal Abzal dari KIP Aceh mengapresiasi adanya jurnalis warga yang fokus pada isu-isu pemilu dan demokrasi ini. Menurutnya, partisipasi masyarakat dalam setiap tahapan pemilu sangat penting dan membantu panitia penyelenggara pemilu seperti KIP dan Panwaslih dalam menyebarluaskan informasi tahapan pemilu hingga ke level akar rumput.
“Salah satu bentuk partisipasi masyarakat ialah membuat kegiatan-kegiatan edukasi yang bertujuan untuk menginformasikan kepada khalayak bahwa kita sedang menyongsong Pemilu 2024,” katanya.
Sementara Riswati menitikberatkan pada pemilu inklusif menjelaskan tentang hak untuk dipilih dan memilih, disebut dengan universal suffrage yang diakui secara internasional. Pemilu inklusif dan humanis hendaknya tidak ada perlakuan diskriminasi kepada setiap individu baik karena perbedaan ras, kelamin, agama, pilihan politik, kondisi fisik, dan lain-lain.
“Namun, dalam praktiknya masih jauh dari kata ideal. Setiap perhelatan pemilu digelar kita selalu mendengar adanya permainan politik uang maupun kampanye hitam kepada peserta pemilu maupun diskriminasi kepada warga selaku pemilih,” katanya.
Dalam konteks kepemiluan, kata Riswati, peserta pemilu perempuan seperti caleg atau calon kepala daerah paling sering mengalami diskriminasi berbasis gender sehingga tantangan yang mereka hadapi di lapangan lebih kompleks. Oleh karena itu, kata dia, perlu peran serta jurnalis warga dalam mengampanyekan pemilu adil, inklusif, dan humanis, sehingga tidak ada pihak-pihak yang dirugikan dan bisa merasakan efek dari demokrasi sehat.
Hayatullah Pasee menyampaikan bahwa tulisan memiliki daya dorong yang besar untuk memengaruhi cara berpikir atau perilaku publik maupun pembuat kebijakan. Menurutnya, menulis menjadi salah satu cara yang efektif dalam mengdvokasi isu atau suara-suara publik yang terabaikan.
Di era keterbukaan informasi seperti saat ini, kata Hayatullah, warga bisa berpartisipasi aktif dalam setiap isu-isu menyangkut hajat orang banyak dengan menyalurkan pikiran-pikiran kritis mereka di berbagai ruang. Tidak hanya mengharapkan diliput atau ditulis oleh media arus utama, tetapi juga bisa memanfaatkan media sosial.
Yarmen Dinamika menyampaikan agar para jurnalis warga menyadari bahwa kerja-kerja jurnalistik mereka di lapangan tidak dilindungi oleh Undang-Undang Pers sebagaimana jurnalis profesional. Ketika berhadapan dengan hukum, mereka akan dihadapkan dengan Undang-Undang ITE. Oleh karena itu, penting menghasilkan karya jurnalistik berkualitas yang sesuai dengan kode etik jurnalistik dan menghindari negative remarks, serta opini yang tidak bisa dipertanggungjawabkan.
Banyak isu-isu pelayanan publik, termasuk tentang kepemiluan yang bisa diangkat dan dituliskan oleh jurnalis warga. Ia menekankan pentingnya menulis yang berimbang dan adil sehingga tidak ada pihak-pihak yang dirugikan dari tulisan dihasilkan warga.[](ril)





