ACEH UTARA – Kabut asap menyelimuti hampir seluruh wilayah Kabupaten Aceh Utara dan Kota Lhokseumawe dalam dua hari terakhir, Rabu hingga Kamis, 14–15 Oktober 2026. Kondisi tersebut berdampak pada penurunan kualitas udara yang berpotensi mengganggu kesehatan masyarakat, terutama sistem pernapasan.

Dokter Umum Penugasan Khusus Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI Penempatan Aceh Utara, dr. Raisatul Gebrina, dalam keterangannya, Kamis, 15 Oktober 2026, mengatakan paparan kabut asap dapat menimbulkan berbagai gangguan kesehatan, mulai dari masalah pernapasan hingga iritasi pada mata dan kulit.

Menurut dr. Raisa, gangguan pada sistem pernapasan yang dapat dialami masyarakat di antaranya batuk, sesak napas, dada terasa berat, napas berbunyi, sakit atau gatal pada tenggorokan, serta hidung berair maupun tersumbat.

“Pada mata, paparan kabut asap dapat menyebabkan mata merah, perih, gatal, dan berair. Sementara pada kulit, dapat menimbulkan iritasi maupun rasa gatal,” ujar Raisa.

Selain itu, kata Raisa, paparan kabut asap juga dapat menyebabkan seseorang mengalami pusing atau sakit kepala. Demam juga bisa terjadi apabila kondisi tersebut disertai infeksi.

Raisa menyebut terdapat sejumlah kelompok masyarakat yang lebih rentan mengalami gangguan kesehatan akibat paparan kabut asap. Kelompok tersebut meliputi bayi, anak-anak, ibu hamil, lanjut usia (lansia), dan penderita penyakit jantung atau penyakit paru-paru kronis. Kelompok rentan itu perlu mendapatkan perhatian lebih, karena berisiko mengalami komplikasi kesehatan yang lebih berat apabila terpapar kabut asap.

Untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan, dr. Raisa mengimbau masyarakat agar melakukan sejumlah langkah pencegahan selama kondisi kabut asap masih menyelimuti wilayah Aceh Utara dan Lhokseumawe.

Pertama, masyarakat diminta membatasi aktivitas di luar rumah apabila tidak memiliki keperluan mendesak. Jika harus beraktivitas di luar ruangan, warga disarankan menggunakan masker untuk mengurangi paparan partikel berbahaya dari udara.

Kedua, masyarakat dianjurkan menggunakan kacamata pelindung guna mencegah iritasi pada mata akibat paparan kabut asap.

Selain itu, warga perlu memenuhi kebutuhan cairan tubuh dengan minum air putih yang cukup, minimal dua liter atau sekitar delapan gelas per hari. Mengonsumsi makanan bergizi seimbang juga penting untuk menjaga daya tahan tubuh.

“Apabila sudah mengalami keluhan kesehatan, masyarakat sebaiknya segera mendatangi fasilitas pelayanan kesehatan (faskes) terdekat agar dapat memperoleh pemeriksaan dan penanganan sedini mungkin,” ungkap Raisa.

Raisa mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap dampak kabut asap, terutama bagi kelompok rentan. Upaya pencegahan dan penanganan sejak dini diperlukan untuk meminimalkan risiko gangguan kesehatan selama kualitas udara menurun. []