Pagi itu, Jumat, 20 Mei 2016, suasana di Gampong Meunasah Gampong, Kemukiman Paloh, Kecamatan Pidie, Kabupaten Pidie, dalam keadaan sepi. Masyarakat Gampong yang terletak 4 kilometer dari pusat Kota Sigli disibukkan dengan aktivitas menggais rezeki untuk mengasapin dapur keluarga mereka. Maklum, 90 persen warga bergantung hidup sebagai petani sawah, selebihnya selain pedagang, guru dan wira usaha lainnya.

Secara tiba–tiba satu dua unit mobil berplat merah, bahkan satu unit di antaranya jenis sedan mewah, memasuki lorong gampong yang berpenduduk 70 Kepala Keluarga. Tidak seorangpun warga tahu, siapa penumpang mobil itu yang ternyata Bupati Pidie Sarjani Abdullah, dan keperluan apa datang ke wilayah tersebut. Iringan dua mobil itu terus melaju dengan kecepatan pelan menelusuri lorong dan langsung berhenti di depan sebuah gubuk berukuran 3×3 centimeter.

Bangunan yang berkontruksi bambu dan beratap rumbia itu dengan kondisi atap tembus pandang ke langit, persis ‘maaf’ kandang kambing. Bupati Sarjani, langsung menuju bangunan itu, sembari mengetuk pintu dan memberi salam, “Assalamialaikum! Peuna ureueng di dalam?” ucap Sarjani yang didamping ajudannya.

Dari dalam rumah terdengar suara 'walaikumsalam', sembari keluar seorang perempuan berumur 35 tahun beserta dua orang anaknya. Perempuan itu tidak tahu bahwa tamu yang datang ke rumahnya itu orang nomor satu di Kabupaten Pidie. Itu terlihat dari raut wajahnya dan penampilan apa adanya, “Neupiyoh Teungku,” kata perempuan bernama Nurmiati.

Ketika dia tahu, bahwa tamunya itu, Bupati Sarjani, perempuan tersebut langsung menangis dan menceritakan tentang nasib mereka yang hidup di bawah garis kemiskinan, sembari sangat berharap adanya bantuan rumah layak huni sebagai tempat bernaung dia bersama keluarganya.

“Bapak, kamoe hudep sangat susah! Jangankan untuk peugot rumoh, keu makan saja susah,” keluh perempuan dengan mata–mata berkaca- kaca.

Belum sempat Bupati menanyakan suaminya, secara tiba- tiba muncul seorang laki-laki paruh baya dengan pakaian lusuh dan berwajah lesu. Lelaki itu adalah suami Nyakmi (panggilan Nurmiati). Laki-laki itu bernama Abdurahman yang sehari- hari bekerja serabutan dan penghasilan tidak menentu, bahkan keluarga ini kadang kala harus mengirit makannya agar anaknya dapat makan dan sekolah.

“Kami tidak tahu harus mengadu ke mana pak, karena kami tidak mengerti dan awam dengan menulis permohonan,” kata Abdurahman.

Begitu mendengar keluhan keluarga miskin tersebut, Bupati Sarjani sembari mengusap kepala anak Abdurahman, mengatakan, “Jangan bersedih saudaraku! Semua itu merupakan kehendak Allah SWT, paling penting, usaha dan berdoa, serta meninggal shalat.  Saudara tidak sendiri, kami tetap bersama suadara,” kata Bupati sembari memberi semangat kepada keluarga yang kelihatan sudah putus harapan itu.

“Kita selaku pemerintah tidak akan pernah mernginginkan rakyat kita tidak memiliki rumah layak huni. Tujuan kita, membangun untuk mensejahterakan rakyat dan tidak ada lagi rakyat kita hidup dibawah garis kemiskinan. Namun, semua itu waktu dan upaya kita semua,” imbuh Sarjani yang mengaku akan mengupayakan rumah layak huni bagi keluarga tersebut.

Setelah beberapa saat Mantan Panglima Gerakan Aceh Merdeka (GAM) Wilayah Pidie ini, minta permisi kepada penghuni rumah. Sebelum meninggalkan rumah itu, Bupati Pidie menitipkan bantuan uang kepada keluarga Abdurahman dan Nyakmi dengan harapan dapat diugunakan dulu untuk kebutuhan megang dan Ramadhan.[]