BERLIN – Kanselir Jerman Angela Merkel mendorong rekan-rekan Eropanya agar tidak terlibat pertikaian mengenai pembicaraan keanggotaan Turki di Uni Eropa. Dia menghimbau agar mereka membicarakan hal itu secara pribadi.

Berbicara dalam konferensi pers dengan Perdana Menteri Prancis Edouard Philippe di Berlin pada Jumat, Merkel mengatakan pemimpin-pemimpin UE membicarakan hubungan UE-Turki dalam rapat pada 19 Oktober nanti.

“Kita mengajukan memasukan Turki sebagai agenda pembicaraan dalam Dewan Eropa. Dan seperti yang saya katakan beberapa kali, lebih baik tidak terlibat dalam pertengkaran di hadapan umum, dan kita harus membicarakannya diantara kami,” kata Merkel.

Perdana Menteri Philippe menolak untuk member komentar terhadap proposal Jerman, namun mendukung pernyataan Merkel mengenai membicarakan hal itu pada pertemuan Dewan Eropa dan bukan di depan umum.

Sebelumnya, Presiden Prancis Emmanuel Macron awal bulan ini mengatakan Turki adalah partner penting bagi UE dan menyarankan agar hubungan tetap dijaga, walau mengalami ketegangan.

 Merkel dibawah tekanan

Kanselir Jerman Merkel, yang mencalonkan diri untuk periode baru dalam pemilihan pada 23 September, berada dalam tekanan berat dari pihak oposisi yang mendorongnya untuk bersikap tegas terhadap Turki. Kedua negara tersebut mengalami ketegangan politik.

Awal bulan ini dia mengatakan akan memikirkan kemungkinan menghentikan atau membatalkan pembicaraan keanggotaan UE untuk Turki.

Rival politik terbesarnya, Martin Schulz dari Partai Sosial Demokratik (SPD) menyerukan agar segara menghentikan pembicaraan tersebut dan  membekukan dana EUR 4 milyar.

Kesepakatan untuk menghentikan pembicaraan keanggotaan Turki harus memperoleh persetujuan dari semua anggota UE, yang dianggap tidak mungkin oleh para diplomat.

Hubungan antara Ankara dan negara-negara Eropa lainnya memburuk sejak percobaan kudeta di Turki tahun lalu. Pejabat-pejabat Turki mengkritik negara-negara tetangga mereka yang dianggap tidak menunjukkan solidaritas dengan pemerintahan Turki.

Percobaan kudeta oleh FETO

Politisi-politisi Turki juga mengkritik Jerman, Belgia, Belanda dan beberapa negara Eropa lainnya yang tidak mengecam kelompok-kelompok anti-Turki – seperti Organisasi Teroris Fetullah.

Menurut pemerintahan Turki, gerakan teroris Organisasi Teroris Fetullah (FETO) dan pemimpinnya yang bermukim di AS, Fetullah Gulen, adalah otak dibalik percobaan kudeta pada 15 Juli 2016, yang menewaskan 250 orang dan melukai 2.200 lainnya.

Ankara juga menuduh FETO menggencarkan kampanye jangka panjang untuk menggulingkan pemerintahan Turki melalui penyusupan di berbagai institusi, termasuk militer, polisi dan hukum.  

FETO diperkirakan memiliki sekitar 70.000 pengikut di Jerman, namun pihak berwenang negara tersebut menolak permintaan Turki untuk mengadili para tersangka tersebut.[]Sumber:anadolu agency