BANDA ACEH  – Kepala Dinas Kebudayaan (Disbudpar) Aceh, Reza Fahlevi, menilai Pertemuan Ilmiah Internasional serta Gelar Budaya Aceh 2016 (International Conference and Cultural Event of Aceh 2016), dapat jadi rujukan untuk even serupa.

“Acara tersebut bagus, apalagi dibuat oleh orang Aceh yang berada di luar negeri, dengan melibatkan berbagai unsur di bidangnya,” kata Reza Fahlevi, kepada portalsatu.com, 20 September 2016.

Sebagaimana diketahui, acara ICCE of Aceh 2016 merupakan rangkaian panjang, di antaranya Pameran Karya Seni Rupa Kontemporer, Karya Pelukis Aceh, Mahdi Abdullah, bertemakan: Trans Memorabilia.

Acara lainnya, kata Ari, Kegiatan Terbuka: Festival Gampong Aceh: “Aceh: the Color of Indonesian Diversity”.

Ada juga Pertemuan Ilmiah Internasional, di Monash University selama tiga hari berturut-turut, mulai Senin, 26 sampai Rabu 28 September 2016.

Mata acara lain, kegiatan Pameran Benda Budaya “Keunebah Indatu”, Warisan Budaya Aceh-Sumatra, dimulai sore hari pertama penyelenggaraan pertemuan ilmian internasional dan digelar di koridor Auditorium Gedung Pertunjukan Seni, Monash University, Melbourne, Australia, mulai dari tanggal 26 September hingga berakhirnya nanti Desember 2016.

Acara ini juga dimeriahkan dengan Aceh Documentary FIlm Festival, lima kali pemutaran, dari 16 sampai 28 September 2016, bekerja sama dengan kreativitas sinies muda Aceh yang terhimpun dala Aceh Documentary Foundation.

Sebelum ditutup diadakan Pertunjukan Seni “Piyasan Aceh”, Apresiasi terhadap Tradisi Berkesenian Masyarakat di Aceh. Ini merupakan acara puncak pertama yang menampilkan kreasi dan kreatifitas koreografer, syeh (pewaris Budaya) dari selatan Aceh dan Kepulauan Banyak dan Nagan Raya, serta penari yang terhimpun dalam jejaring Pusat Kajian dan Pengembangan Seni Universitas Syiah Kuala.

Ari Pahlawi, konseptor acara tersebut sendiri kini memasuki masa tahap akhir penyelesaian Program Doktornya di Monash University.

Ia fokus bidang keilmuan Etnomusikologi untuk kajian The Identity and the Dilemmas of the Malay Music-Culture of the Urang Pulo Islanders of the Banyak Archipelago, Sumatra: An Ethnographic, Socio-Historical and Music-Analytical Study.[]