MUDIK adalah tradisi pulang kampung yang selalu ditunggu-tunggu para perantau. Di Indonesia, mudik identik dengan lebaran, baik Idul Fitri maupun Idul Adha. Hanya saja, jumlah pemudik saat Idul Adha biasanya jauh lebih sedikit dibandingkan saat Idul Fitri.

Bagi banyak orang mudik bukan sekadar pulang kampung. Ada banyak hal yang membuat aktivitas mudik menjadi begitu bermakna. Apalagi bagi mereka yang sudah lama tak menginjakkan kakinya ke kampung halaman. Misalnya menikmati keseruan selama di dalam perjalanan, khususnya bagi yang mudik bersama keluarga. Seperti yang diceritakan beberapa anak muda Aceh ini.

“Kami pernah mudik dengan kendaraan pribadi selama 35 jam. Pernah juga mudik konvoi lima mobil bersama keluarga, keseruan perjalanannya yang dikenang sampai sekarang,” ujar Ayi, warga Banda Aceh kepada portalsatu.com, Minggu, 3 Juli 2016.

Momen mudik juga dimanfaatkan Ayi dan keluarganya untuk mencari silsilah keluarganya. “Biar nggak hilang 'darahnya',” kata Ayi yang kerap mudik ke sejumlah kota berbeda di Aceh dan Sumatera ini.

Lain Ayi lain lagi Mira. Perantau asal Kota Sigli ini memanfaatkan momen mudik yang setahun sekali untuk bisa bertemu dengan tetangga dan saudara. Namun, ada pengalaman unik yang dirasakan Mira setiap kali pulang kampung.

Para tetangga dan saudaranya kadang iseng menggodanya dengan pertanyaan, “nggak tahu kampung lagi ya… nggak pernah pulang.” Maklum, sepuluh tahun terakhir ini Mira menghabiskan banyak waktunya di luar negeri untuk kuliah.

“Karena banyak tetangga baru, paling ditanyain Mira siapa karena yang paling nggak dikenal di rumah,” ujar dara yang baru saja pulang dari Jerman ini.

Sementara bagi Hijrah Saputra, pemuda asal Kota Sabang, mudik berarti kesempatan untuk melihat keluarga di kampung halaman dan kesempatan untuk bernostalgia.

“Seenak-enaknya di kota orang masih senang kota sendiri, plus pengalaman seru bertemu teman-teman seperjuangan mudik, sampai sekarang masih keep in touch sama teman-teman yang ketemu pas mudik,” katanya.[](ihn)