BANDA ACEH – Forum Kota Pusaka Aceh terbentuk dalam sebuah rapat organisasi yang telah menyetujui menjadi anggota kumpulan organisasi yang sebelumnya disebut kaukus tersebut. Dalam pertemuan di ruang rapat Forum LSM Aceh, Jumat, 21 April 2017 malam peserta membicarakan tentang gambaran umum, visi misi dan kepengurusan.
Hadir dalam acara tersebut Taqiyuddin Muhammad pendiri Mapesa (Masyarakat Peduli Sejarah Aceh) dan CISAH (Central Information for Samudra Pasai Heritage), Mujiburrizal Duta Museum, Mizuar Mahdi Ketua Mapesa, Masykur dari Mapesa dan Pedir Museum, Mawardi Usman dari ALIF (Aceh Lamuri Fondation), Hasan Al Basri dari Mapesa, Sulaiman dari YARA (Yayasan Advokasi Rakyat Aceh).
Turut hadir Muhammad Zubir dari YARA (Yayasan Advokasi Rakyat Aceh), M. Yusrizal dari Himpunan Mahasiswa Sejarah (Himas) FKIP Unsyiah, Muammar dari Himpunan Mahasiswa Sejarah (Himas) FKIP Unsyiah, Muhammad Iqbal dari Mapesa, Zulfikar dari Forum LSM Aceh, Teuku Farhan dari MIT Aceh, dan Thayeb Loh Angen dari PuKAT (Pusat Kebudayaan Aceh-Turki), dan lainnya sekira 15 orang.
Dalam perkumpulan organisasi yang diinisiasi Thayeb Loh Angen tersebut, para perwakilan organisasi yang hadir memberikan pendapatnya.
Berikut rangkuman dari notulen acara yang dicatat oleh Masykur.
Teuku Farhan, mengatakan, sudah ada 29 lembaga resmi bergabung dalam Forum Kota Pusaka Aceh. Sebagaimana diumumkan sebelumnya, acara ini untuk menyepakati kepengurusan forum Kota Pusaka agar lebih sistematis.
“Dengan adanya Forum Kota Pusaka Aceh ini diharapkan akan semakin memperkuat pengurusan Batu Aceh menjadi warisan UNESCO, dari kaukus namanya telah disepakati diubah menjadi Forum Kota Pusaka Aceh,” kata Farhan.
Thayeb Loh Angen, pencetus (inisiator), mengatakan, pembentukan gabungan organisasi ini berawal dari pengalaman pembentukan Forum for Lamuri (ForLamuri) dalam rangka penyelamatan kawasan Situs Kerajaan Lamuri pada tahun 2012. Selain itu, situs sejarah penting masih sering diabaikan oleh pemerintah.
Abu Taqiyuddin Muhammad mengatakan, keberadaan Forum Kota Pusaka Aceh ini sangatlah penting dengan didukung lintas organisasi untuk saling bersinergi dalam mengurus dan memberdayakan sejarah Aceh.
“Aceh adalah panggung peristiwa yang penuh histori untuk dibahas dalam bentang sejarah yang luas. Penelitian kota pelabuhan perlu dibuat kajian khusus. Banyak sekali data baru yang sudah dipublikasi, dan ini menandakan kita banyak tugas yang harus dipikul. Kehadiaran Forum Kota Pusaka Aceh ini diharapkan akan menjadi wadah baru sebagai penyemangat dan ini adalah suatu yang sangat dibutuhkan,” kata Taqiyuddin.
Taqiyuddin mengatakan, hadirnya Forum Kota Pusaka Aceh supaya semua pihak dapat mencurahkan perhatian untuk kepedulian terhadap pelestarian sejarah. Kaukus ini, kata dia, menjadi lembaga yang dapat memberi saran kepada pemerintah untuk penyelamatan sejarah. Penyelamatan dan pemberdayaan sejarah secara moril dan materil. Berdasakan usulan, nama diubah menjadi Forum Kota Pusaka.
“Sejarah Aceh harus diberikan segala haknya sebagai salah satu ilmu pengetahuan. Dengan sejarah Aceh, dengan keislamannya harus memelihara karakter. Sejarah bukan nostalgia di masa lampau, akan tetapi sebagai sebuah paradigma di masa depan, mewujudkan edukasi terhadap kota pusaka Aceh di masa lampau. Sejarah harus dijaga dalam ruangnya. UNESCO mendukung pembentukan kota pusaka dan ini yang sedang muncul menjadi momen untuk kinerja Forum Kota Pusaka,” kata Taqiyuddin yang merupakan peneliti sejarah dan kebudayaan Islam Asia Tenggara.
Ustaz Mujiburrizal, mengatakan, banyak persoalan sejarah terlupakan karena konflik yang berkepanjangan. Diperlukan dorongan untuk menggerakkan, dan dengan pembentukan kaukus ini menjadi suatu hal yang baru untuk mencurahkan perhatian terhadap ketinggalan sejarah. Jangka pendek yang perlu diperbincangkan untuk pendaftaran Batu Aceh menjadi World Heritage City.
“Dengan adanya Forum Kota Pusaka Aceh ini menjadi referensi untuk pemerintah dalam pendaftaran Batu Nisan Aceh sebagai World Heritage City. Kekayaan Batu Nisan Aceh sangat luas berdiaspora ke seluruh Asia Tengara. Aceh adalah labotorium penelitian sejarah Islam yang besar dan perlu dikembangkan. Sangat disayangkan jika bukti sejarah Aceh hilang tanpa adanya penyelamatan. Aceh adalah bagian penting dari tamaddun sejarah Islam Asia Tenggara. Keberadaan Forum Kota Pusaka Aceh ini menjadi wadah yang memperkuat pemberdayaan sejarah agar tidak selalu tertinggal,” kata Mujiburrizal.
Agam Al Usmani dari ALIF dan Muammar dari Himas FKIP Unsyiah juga memberikan pendapatnya tentang Forum Kota Pusaka Aceh.
Perwakilan YARA, mengatakan, organisasi YARA sebagai advokat akan mengambil bagian terhadap pengawasan dan penyelamatan situs melalui qanun dan bentuk adovokasi lainnya yang diperlukan. Lembaga Forum Kota Pusaka Aceh ini lebih baik dibuat Aceh secara umum agar lebih luas pandangan di mata international.
Teuku Zulfikar dari Frum LSM Aceh yang juga Sekretaris Wareeh KUB (Keluarga Ulee Balang), mengatakan, Forum Kota Pusaka Aceh ini diharapkan harus berjalan. “Forum LSM sangat mendukung keberadaan Forum Kota Pusaka Aceh ini. Sejarah dalam beberapa dekade terakhir sangat kurang terpeduli oleh pemerintah,” kata Zulfikar.
Dalam perrtemuan tersebut, Teuku Farhan dari MIT (Masyarakat Informasi & Teknologi) Aceh ditunjuk sebagai Ketua Forum Kota Pusaka. Sebagai ketua terpilih, Teuku Farhan mengatakan ia segera memilih pengurus lainnya, dan kemungkinan besar, bentuk organisasi ini akan dibuat semacam presidium.
Sebagaimana diketahui, organisasi yang telah menyatakan bersedia bergabung dalam Forum Kota Pusaka Aceh adalah:
1. Mapesa (Masyarakat Peduli Sejarah Aceh)
2. YARA (Yayasan Advokasi Rakyat Aceh)
3. KWPSI (Kaukus Wartawan Peduli Syariat Islam)
4. Gerakan Suara Rakyat (GSR)
5. LSM Generasi Aceh Peduli (GAP)
6. Masyarakat Informasi & Teknologi (MIT)
7. ALIF (Aceh Lamuri Foundation)
8. Forum Silaturahmi TPQ Syiah Kuala
9. Persatuan TPQ Kopelma Darussalam
10. PW Bakomubin Aceh
11. IKAT (Ikatan Alumni Timur Tengah) Aceh
12. Raudhah Foundation
13. KAMMI Aceh
14. Komite Perempuan Aceh Bangkit
15. ALIS Aceh (Aliansi Lintas Sejarah Aceh)
16. Wareeh KUB (Keluarga Ulee Balang)
17. Forum LSM Aceh
18. RTA (Rabithah Thaliban Aceh)
19. Ormas Al Kahar
20. Forum Peneliti Aceh.
21. Pemuda Dewan Dakwah Aceh
22. Rumoh Manuskrip Aceh
23. PuKAT (Pusat Kebudayaan Aceh-Turki)
24. GEMASABA Aceh
25. LSM Jaringan Masyarakat Kota
26. Pedir Museum
27. Himpunan Mahasiswa Sejarah (Himas) Unsyiah
28. ARIMATEA
29. Duta Museum.[]

