BANDA ACEH – Mantan Pangdam Iskandar Muda yang kini anggota Komisi I DPR RI Supiadin Aries Saputra berbicara banyak hal tentang Aceh. Mulai pilihan untuk memberikan koreksi kepada Pemerintah Aceh hingga soal pilkada 2017. Supiadin AS menyampaikan itu di sela-sela kunjungannya ke Aceh, Senin, 29 Agustus 2016.

Menurut politisi Partai NasDem ini, sebelum tahun 2005 masyarakat di Aceh belum berani memberi kritik maupun koreksi terhadap Pemerintah Aceh.

“Namun seiring dengan berkembangnya teknologi komunikasi banyak pilihan untuk memberikan koreksi kepada Pemerintah Aceh. Hal itulah yang harus disadari oleh para pemimpin di Aceh,” kata Supiadin.

Supiadin menambahkan, jika terpilih menjadi wakil rakyat maka harus siap dengan segala konsekuensinya. “Artinya, wakil rakyat itu harus sering mendengar suara rakyat meski pahit sekalipun. Rakyat Aceh sudah 27 tahun menderita.” Nah, dia (rakyat) kini menunggu wakil rakyat yang menguubah nasibnya,” ujar anggota DPR RI ini.

Menurut Supiadin, pilkada adalah mencari pemimpin.Yang namanya mencari pemimpin itu bahasa politiknya pribadi yang dikorbankan. Seharusnya pemimpin itu, kata dia, orang yang sudah selesai urusan pribadinya. “Kalau sudah selesai dengan segala urusan pribadinya maka tidak akan ada pemimpin yang korupsi,” tuturnya.

“Rakyat Aceh pada umumnya adalah ahli dagang. Ya, tidak ada pemimpin, bisa cari makan sendiri, tanahnya juga subur. Tetapi mereka kan ingin hidup lebih layak. Jadi calon pemimpin itu jangan sekadar ikut pilkada, tapi harus mau berkorban demi rakyat nantinya jika terpilih,” kata Supiadin lagi.

Lanjut Supiadin, pemimpin itu ada karena dipilih rakyat. Tugas pemimpin mengembalikan kepercayaan rakyat dalam bentuk peningkatan kesejahteraan rakyat.

Dia turut berpesan pada pelaksanaan pilkada di Aceh 2017 mendatang. “Semua kandidat bersainglah secara sehat, jangan terjadi intimidasi dari satu pihak ke pihak lain. Saya berharap pelaksanaan pilkada di Aceh menjadi barometer dan menjadi contoh untuk provinsi lainnya,” ujar Supiadin.[]