Saat berjuang merebut kemerdekaan, santri dengan komando sang guru dan para ulama berada di garda terdepan melawan penjajahan. Tidak sedikit korban nyawa “kaum sarungan” termasuk sang gurunya sebagai ulama, dayah dibakar maupun kerugian lainnya. Setelah kemerdekaan dapat dinikmati, elemen santri di bawah didikan dayah (pesantren) dituntut harus mampu mengoptimalkan dirinya dalam mengisi kemerdekaan itu walaupun pemerintah belum sepenuhnya alias masih memandang “sebelah mata” memerhatikan keberadaan dan kesejahteraan santri dan dayah serta elemennya dibandingkan dengan pendidikan formal seperti universitas, sekolah dan lainnya. Itulah yang terjadi, tapi sosok santri tidak boleh cengeng saat tidak “dihiraukan oleh pemerintah seperti lembaga lainnya.
Kita harus mengakui sosok santri itu merupakan bagian dari faktor utama pendidikan Islam yang sangat mewarnai perjalanan Indonesia dalam meningkatkan nilai-nilai keagamaan di tengah masyarakat. Pendidikan yang khas diperoleh dari dayah karena mempunyai nilai strategis dalam mewujudkan program-program pemerintah. Pada masa merebut kemerdekaan, santri menjadi harapan perjuangan bangsa melepaskan diri dari belenggu penjajahan. Banyak dayah menjadi pos-pos pejuang dalam menyusun strategi hingga penyerangan bahkan menjadi balai pengobatan bagi yang terluka.
Selain mengembangkan dan mengasah potensi, santri juga harus menyebarkan syiar Islam. Saat ini, dakwah dapat dilakukan melalui media sosial. Salah satu peraturan di beberapa dayah santri tidak diperbolehkan untuk membawa handphone termasuk untuk mengakses media sosial. Namun, hal ini bukan halangan bagi santri untuk mengemban misi ini. Mereka dapat menyebarkannya dalam publikasi-publikasi yang diselenggarakan pihak dayah atau media-media lainnya. Ketika liburan, para santri diperbolehkan untuk mengakses media sosial sepuasnya. Santri pun harus memanfaatkan kesempatan ini untuk menyebarkan Islam di media sosial. Apabila santri melaksanakan misi ini, syiar Islam dapat berkembang luas dan masyarakat akan semakin sadar akan pentingnya berkehidupan islami.
Keberadaan santri sekarang ini bukanlah santri di era kemerdekaan dan perjuangan dahulu. Namun, santri saat ini hidup di era globalisasi yang terus bergulir dengan berbagai macam teknologi dan inovasi baru plus tantangan dan godaan zaman kian hari semakin menggila dan tidak menentu, menuntut mereka untuk terus bergerilya dengan sekuat tenaga dan selektif disegala aspek kehidupan untuk membendung diri dari berbagai pengaruh negatif yang sedang dan akan dilakoni di jagad raya ini.
Mereka para santri merupakan sosok yang mendapat mandat sebagai the leader of tomorrow mereka harus berjihad dalam mengisi kemerdekaan. Peluit perjuangan yang telah sampai ke tangga kemerdekaan oleh pendahulu, tidak boleh dilepas dan biarkan tanpa kontribusi dan peran serta santri di dalamnya. Mereka para santri sebagai pemegang tongkat estafet merupakan salah satu elemen masyarakat yang harus sangat berperan dalam berjihad di era globalisasi saat ini dalam terus mengisi dan mempertahankan kemerdekaan dan merevolusikan bangsa ini baik dalam dimensi jihad sosial, budaya, politik, ekonomi, pendidikan dan agama maupun lainnya.
Genderang perjuangan generasi muda dalam tubuh seorang santri sekarang ini tentunya saja lebih besar tantangan dan rintangannya dibandingkan pendahulu. Santri di era globalisasi ini mereka bukanlah berjuang dengan letusan senjata dan mengerahkan tenaga seperti pejuang dahulu, tetapi perjuangan mereka saat ini dengan mengerahkan segenap pemikiran dan kecerdasaan mental dan spiritual untuk membendung dan mengkontribusikan diri serta mewakafkan segenap jiwa dan raga untuk bangsa ini yang kian hari semakin terpuruk di segala aspek.
Dari sini, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa inti Hari Santri Nasional adalah mengumandangkan kembali resolusi jihad. Resolusi jihad harus selalu dikumandangkan karena masyarakat Muslim Indonesia saat ini tengah membutuhkan santri sebagai problem solver. Oleh karena peran santri sangat krusial, maka santri harus meningkatkan kualitas diri. Kegiatan-kegiatan dayah semuanya bersifat mendidik untuk mengasah kapabilitas semua santri. Maka, santri akan siap maju ke masyarakat sebagai ulama pejuang umat menuju kepada kebaikan dan perubahan yang diridai-Nya. Amin.
Selamat Hari Santri, 22 Oktober 2017.[]



