Shalat Ashar sudah usai. Tak jauh dari Masjid Baitusshalihin, Banda Aceh, ada persimpangan yang apabila dilihat dari atas berbentuk seperti bintang. Persimpangan itu dinamakan “Simpang Tujoh”.

Tak jauh dari Simpan Tujoh, pemuda bernama Irfandi menjual kebab Turki, Kamis, 24 Mei 2018. Dia menggunakan sebuah rak warna kuning tertulis “Kebab Turki dan Burger”.

Di Aceh, kuliner itu disebut “Kebab Turki”, sedangkan di negeri asalnya menurut orang-orang yang sering ke Turki disebut “Durum”.

Irfandi menjalankan usaha kecil itu dibantu beberapa temannya. Ia menyediakan beberapa jenis Kebab Turki dan burger. Calon pembeli dapat melihat langsung makanan itu dari depan rak, atau kawan Irfandi akan memberikan brosur.

Kebab itu dijual Rp15 ribu per potong. Begitu juga kebab sosis. Sedangkan syawarma Rp13 ribu, burger sosis Rp12 ribu, double burger  Rp14 ribu, beef burger Rp10 ribu, dan burger telur Rp7 ribu.

Tidak jauh dari lokasi Irfandi menjual kebab tampak pedagang lainnya dengan jenis dagangan berbeda. Terlihat panci-panci diletakkan di atas meja. Di bagian atas depan kedai itu tertulis “Aceh Bubur”.

Di Simpang Tujoh juga banyak para penjual mie caluk dan peucai, salah satunya Kak Mar. Dia menjual mie caluk Rp5 ribu per bungkus, dan peucai  Rp10 ribu.

“Dalam sehari kami membutuhkan 10 kg mi, mihun satu pack, dan mie caluk (mie pureh) 3 kg,” kata Kak Mar.

Sementara di sudut jalan dekat pagar masjid ada beberapa pedagang air tebu di antara para pedagang gorengan dan kue-kue basah. Satu gelas/kantong air tebu dijual Rp5 ribu.

Petang itu, seperti biasa, suara kendaraan menderu, bercampur dengan suara para pedagang dan pembeli. Sementara aroma makanan bertebaran tertiup angin. Simpang Tujoh saat petang bulan suci Ramadan teramat padat dan sibuk.[]

Penulis: Jamaluddin