LHOKSEUMAWE – Serangan kawanan gajah di kawasan kebun rakyat di Aceh Utara selama dua tahun terakhir dinilai berkurang dibanding sebelumnya.
Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Aceh Utara Kastabuna mengatakan, kondisi ini tidak terlepas dari peran Conservation Response Unit (CRU) di Cot Girek, yang selalu menghalau kawanan hewan dilindungi tersebut untuk kembali ke habitatnya.
Berkat empat gajah jinak yang ada di CRU Cot Girek, konflik gajah liar dengan manusia di Aceh Utara jadi berkurang, berbeda dengan tahun 2013 dan 2014 serangan hewan besar itu luar biasa merusak dan sangat merugikan perkebunan warga di kawasan pedalaman, ujar Kastabuna, Rabu, 21 Desember 2016.
Menurut Kadis, ada empat ekor gajah jinak dari Seulawah dengan delapan personil pawang gajah dari BKSDA, dibantu annggota polisi hutan dan beberapa warga. Selama ini mereka intens berpatroli di titik konflik yang sering dilalui hewan dilindungi tersebut.
Hanya saja, katanya ada beberapa persoalan yang masih dihadapi petugas CRU, terutama kendala dari mobilisasi gajah jinak bila terjadi serangan berada di titik yang jauh dari pos CRU. Karena butuh berhari-hari untuk bisa menjangkau lokasi tersebut.
Solusinya ya petugas saja yang berangkat dengan membawa perangkat seperti mercon atau alat halau lainnya, kata Kastabuna.
Selain itu, pihak BKSDA bersama petugas dari dinas juga banyak melakukan upaya sosialisasi terhadap masyarakat yang berada di wilayah rentan konflik gajah. Upaya tersebut sedikit banyak bisa membantu tugas personil CRU di lapangan.[] (*sar)
Laporan Munir



