Oleh Taufik Sentana*
Secara umum, kita hanya hidup pada dua sisi dimensi, kehidupan batin dan kehidupan fisik. Masing masing kehidupan itu menggunakan perangkatnya sendiri searah dengan penciptaan sistem kosmik semesta. Ada hukum tetap, ada hukum tarik-menarik ada pula hukum kebiasaan: semua ada tempat orbitnya, termasuk kehidupan kita.
Adapun kekayaan sering diidentikkan dengan kepemilikan. Walaupun tidak semua yang berkepemilikan merasa kaya dan cukup serta memanfaatkan sesuai keperluan. Demikian karena kita secara umum hidup dalam persepsi, yang dibangun oleh sistem nilai yang dianut dan pengalaman tertentu.
Kita selalu condong mengukur diri sebagaimana ukuran di luar diri kita, maka muncullah ketidaksesuaian dan konflik di batin. Sebagian mengikuti, sebagian hanyut dan sebagian melarikan diri lewat pembenaran. Hanya sebagian kecil yang tetap pada kondisi stabil, penuh hikmah tanpa merusak kehidupan batinnya. Seperti, rasa bahagia, syukur, memberi, memaafkan, melakukan ketaatan dan terus pada poros “pengabdian” pada Sang Khaliq lewat rangkaian amal yang beragam.
Itulah salah satu cara menuju kekayaan batin, kekayaan yang melampaui rasa memiliki dan kepemilikan. Baik itu saat susah ataupun senang.[]
*Pegiat Pengembangan SDM

