BANDA ACEH Aceh Judicial Monitoring Institute (AJMI) menyebut aksi kekerasan yang terus meningkat di Aceh semakin membuat suasana tidak nyaman bagi masyarakat.
Itu sebabnya, AJMI mendesak Polda Aceh segera mengungkap kasus-kasus kekerasan. AJMI juga menegaskan, polda harus bertanggung jawab terhadap kekerasan yang terus meningkat di Aceh.
Kekerasan dimaksud AJMI antara lain kasus bom dan penembakan. AJMI meminta polisi mengusut kasus-kasus tersebut agar tidak terjadi pembiaran. Karena polisi bertanggung jawab untuk meindungi dan memberi rasa aman kepada masyarakat, kata Agusta Mukhtar, Direktur AJMI dalam pernyataannya diterima portalsatu.com, Senin, 19 September 2016.
Agusta menyatakan, polisi selayaknya bekerja maksimal untuk menanggulangi setiap bentuk teror dan kekerasan. Sehingga, kata dia, masyarakat tidak diresahkan dengan setiap aksi-aksi teror dan kekerasan dilakukan oleh kelompok tidak bertanggung jawab yang dapat mengganggu proses perdamaian. Dan masyarakat tidak salin curiga dan saling menyalahkan, ujar dia.
Dia menyebut kondisi politik yang kian memanas menjelang pilkada, jangan sampai dimanfaatkan pihak dan kelompok tidak bertanggung jawab yang dapat mengganggu proses perdamaian. Meningkatnya angka kekerasan yang sampai sudah jatuh korban jiwa dari masyarakat, kata dia, terkesan ada pembiaran oleh pihak kepolisian.
Polisi harus bertanggung jawab terhadap kondisi yang terjadi di Aceh, karena itu masih masuk dalam wewenang dan tupoksi polisi, kata Agusta lagi.
Menurut Agusta, terus meningkatnya angka kekerasan di Aceh menjadi preseden buruk bagi penegakan hukum dan institusi polisi. Sebab, kata dia, sampai hari ini belum ada satu pun kasus yang diungkap oleh pihak kepolisian, siapa aktor utama dan apa motif dari setiap kekerasan terjadi di Aceh.
Sudah seharusnya polisi bekerja maksimal dan profesional untuk meminimalisir angka kekerasan. Polisi cenderung bertindak seperti pemadam kebakaran dalam merespon kekerasan. Kerana begitu kasus kekerasan terjadi, polisi lansung bereaksi dengan hanya melakukan razia, tapi hal itu tidak dilakukan secara sistematis, ujar Agusta.[](rel)



