Lelaki yang umurnya beranjak 40-an tersebut terlihat lesu. Terlihat jelas pada raut wajahnya garis-garis yang menandakan betapa kerasnya kehidupan di desa tempat ia dan keluarganya beserta 66 Kepala Keluarga (KK) yang ia bawahi sejak tahun 2012 tersebut.
Lelaki tersebut bernama M. Abdul. Umurnya 40-an, saat ini ia dipercaya untuk memangku jabatan sebagai Geuchik atau kepala desa di Desa Jambak.
Jambak adalah sebuah desa terpencil dan terisolir kedua setelah Desa Sikundo yang juga merupakan desa di Kecamatan Pante Ceureumen, Kabupaten Aceh Barat. Dari segi pemandangan, Jambak cukup memiki aura yang natural. Berada di desa ini membuat kita tenang dan nyaman. Melihat hamparan sawah ladang di desa ini mengingatkan kita akan lukisan-lukisan tentang pemandangan saat kita kecil dulu. Akan tetapi, jarak yang mesti ditempuh untuk mencapai desa ini cukup jauh dan medan yang ditempuh pun cukup sulit. (Baca: ''Membantu Warga Terisolir Tidak Hanya dengan Pembangunan Ruas Jalan Baru'')
Adapun potensi perekonomian desa Jambak sebenarnya cukup prospektif. Desa ini memiliki lahan yang cukup potensial untuk dijadikan lahan tanaman, seperti kacang, sawit, cabai, nilam dan tanaman palawija lainnya yang saat ini juga merupakan mata pencaharian rata-rata penduduk desa tersebut. Selebihnya, mata pencaharian penduduk desa ini adalah pencari kayu di hutan, mencari ikan, serta berladang.
Selain itu, Jambak adalah salah satu penghasil koral yang cukup signifikan yang bisa dimanfaatkan untuk berbagai proyek pembangunan. Batu koral tersebut, seandainya dijual, bisa menghasilkan Rp 500.000 per truk (4 kubik). Namun, karena akses yang sulit, maka susah untuk menjualnya.
Yang menjadi masalah utama desa kami ini adalah infrastruktur atau akses jalan yang menghubungkan antara desa kami dengan objek-objek vital, seperti pasar, Puskesmas, hingga pusat kecamatan itu sendiri. Bayangkan ketika warga desa kami ada yang sakit pada saat di mana hari sedang hujan lebat, maka susah sekali bagi warga desa kami untuk mencapai Puskesmas terdekat karena desa kami sering kebanjiran, belum lagi kondisi medan tempuh yang berat karena kondisi jalan yang tidak menentu, kami hanya bisa tahan-tahan badan saja, kata M. Abdul dengan mimik wajah prihatin kepada penulis.
Desa Jambak pada dasarnya merupakan salah satu dari desa terisolir di kecamatan Pante Ceureumen, Kabupaten Aceh Barat yang terdiri atas desa Canggai, Lawet, Jambak dan Sikundo. Saat musim penghujan tiba desa-desa ini sering dilanda banjir. Akses menuju keempat desa juga tergolong sulit, terlebih Sikundo. Meskipun saat ini sedang ada wacana pembangunan jembatan untuk akses menuju Sikundo yang dulunya hanya menggunakan seutas tali kabel sebagai sarana penyeberangan menuju desa, namun untuk perubahan menyeluruh, perlu adanya suatu usaha perubahan yang intensif dan berkelanjutan.
Kondisi pendapatan ekonomi di desa-desa tersebut cenderung rendah dibanding desa-desa lainnya di kecamatan Pante Ceureumen. Padahal secara geografis desa-desa tersebut memiliki potensi perekonomian yang cukup potensial.
Di akhir bincang-bincangnya M. Abdul, mewakili keempat desa terisolir tersebut ia berucap, kami juga ingin seperti manusia-manusia lainnya yang ada di Aceh Barat, seandainya akses jalan desa kami bagus, kehidupan kami akan lebih baik, ujarnya.[]
Dikirim oleh Rino Abonita




