LHOKSEUMAWE –  Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI mendanai dua dosen dari Aceh untuk menulis tentang sejarah di provinsi itu. Keduanya adalah, Masriadi Sambo (dosen Ilmu Komunikasi Universitas Malikussaleh) dan Prof. Misri A. Muchsin (dosen Fakultas Adab dan Humaniora UIN Ar-Raniry).

Masriadi didanai menulis sejarah Peran Pers Aceh dan Kemerdekaan Indonesia, sedangkan Prof. Misri didanai menulis Sejarah Kehidupan Masyarakat Nelayan di Aceh Jaya. Keduanya menerima dana penulisan masing-masing Rp 50 juta.

“Proses penulisan dimulai sejak akhir Juni ini hingga September 2017. Ada waktu sekitar tiga bulan untuk menyelesaikan masing-masing naskah itu,” kata Masriadi, Selasa, 6 Juni 2017, setelah penandatanganan perjanjian penulisan buku di Hotel Ambhara, Jakarta.

Dia menyebutkan, seluruh Indonesia, Kemendikbud mendanai 20 penulis yang umumnya berlatar belakang sejarawan dari berbagai komunitas dan perguruan tinggi. Namun, dari Aceh hanya lolos dua orang untuk menerima program tersebut.

“Setelah proses penulisan selesai, dilanjutkan dengan proses percetakan bukunya. Tahun ini naskah harus selesai menjadi buku,” ujar Masriadi.

Program penulisan buku sejarah ini, kata dia, untuk memperkaya referensi sejarah di tanah air. Sehingga, masyarakat mengetahui detail sejarah di daerahnya masing-masing. Program sejenis telah diluncurkan tahun lalu oleh Kemendikbud RI.

“Tema-tema sejarah ini ditulis lebih populer sehingga mudah dipahami dan dinikmati pembaca se-nusantara ,” kata Masriadi Sambo.[](rel)