Pertama kali mengetahui kabar meninggalnya Syeh Hermi adalah di akun facebook penyanyi Subur Dani, kedua Joel Pase, yang mereka berdua membagikan kabar dari rekan lain.
Salah satu dari itu adalah acehmediart.com yang mengabarkan berdasarkan tulisan Wig.
“Salah seorang maestro dalam seni tari Aceh itu meninggal dunia pada hari Sabtu, pukul 7.30 WIB (30 Juli 2016). Ia adalah Zulfi Hermi Daud, pemimpin pada Sanggar Lempia/Rambideun, dosen Empu pada Program studi Tari di ISBI Aceh, ketua Komite Tari Dewan Kesenian Aceh, juri Senior untuk lomba-lomba tari di Aceh, salah satu Senior tari Seudati Aceh, pemain debus Aceh, dan juga sebagai pencipta tari Canang Trieng.
Lelaki yang populer dengan nama Helmi Lempia ini dikenal sebagai sosok yang tegas dan disiplin. Di mata para murid-muridnya beliau adalah ayah yang tegas dalam mengayomi, mengajarkan kedisiplinan, dan sekaligus menjadi teman yang baik.
Pencipta kolaborasi tari gambus dalam festival Lasqi di Pekanbaru Riau ini meninggalkan tiga orang anak dari istri kedua dan satu orang anak dari istri pertama. Sahabat, kerabat dan muridnya terus berdatangan ke rumah duka yang beralamat di komplek perumahan ADB Gampong Labui Neuheun, Krueng Raya, Aceh Besar.”
Saya tidak ingat lagi di mana melihat laki-laki berambut panjang itu pertama kali. Namun saya ingat, pernah secara sengaja mencarinya untuk menanyakan tentang tarian. Hari itu, tahun 2012 atau 2013, di ruang latihan Grup Tari Lempia dan Rambideuen.
Lempia adalah singkatan dari Lembah Piatu. Hermi berasal dari Aceh Selatan. Semasa d I kampungnya, setiap hari ia memandang gunung Lempia. Atas dasar itulah nama grup tarinya Lempia. Kemudian setelah Lempia maju dan penarinya sudah berumur, ia mendirikan Lempia junior yang dinamakan Rambideuen (laba-laba).
Dinamakan rambideuen karena binatang kecil itu membuat jarring laba-labanya untuk mencari rizki. Begitulah kata Hermi saat itu.
Saya pun melihat-lihat alat musik di sana. Ia mengatakan ada semua, termasuk rapai. Saya melihat rak tempat rapai disimpan, dan kecewa, karena rapai yang disebutnya rapai uroh di sana berukuran kecil, tidak seperti yang saya harapkan, bahwa rapai uroh itu lebih besar darinya. Saya tahu benar ukuran rapai uroh karena dulu ada rapai ulee di rumah tinggalan almarhum ayah, yang dibuat oleh Utoh Dadeh, akakek saya.
Setelah rapai saya menanyakan tentang tarian-tarian, termasuk tari pho yang disebut manoe pucok.
Darinya saya tahu bahwa syair tari pho itu lebih panjang dari dinyanyikan oleh Liza Aulia adalam album Rihon Meulambong. Sebelumnya guru music Moritza Thaher juga menyanyikannya, satu bait.
Syeh Hermi mensyairkan Pho;
Beginilah di antara ratapan ibu si Malelang yang malang:
“O bineuk sinyak dong di rot
kapot bungong crot pasoe lam ija
juloh juloh ie mon blang pidie
tujoh pucok jok keu taloe tima
O bineuk lon balek laen
puteh licen seuot beurata
Halo halo hai di kutidi
hai kumbang dodi oi kumbang dodi”
Itu yang sempat saya dengar dari Hermi.
Sementara di laman bulahguhang.blogspot.co.id, syair menyebutkan syair pho di bagian lain yang berbunyi begini:
Ade-ade si Malelang, bukon sayang Madion ma
Si Malelang ngon Madion, yang aneuk phon Malelang ma
Si Malelang jak ek pineung, meuteumeung dua-meudua
Teuma leumah dek peudana meuntro, narit geupeuwo geuba bak raja
Wahee raja neudeungo kamo, Nanggroe kakuto dipeubut dina
Oh ban deungo narit peudana meuntro, geuyu tueng reujang jino nyan makwa
Laju makwa geubeudoh reujang, sajan-sajan geujak bak raja
Oh saree troh makwa nyan keunan, teumanyong reujang laju di raja
Teuma geu meutanggoh tujoh uroe, bah len puwoe Malelang ma
Kareuna wasiet masa uro jeeh, jino peukawen aneuk bandua
Tacok gaca meutujoh on, boh gaca phon Malelang ma
Tacok gaca tujoh boh tangke, gaca meu ukee Madion ma
Tasi keubeue putoh talhak, geuboh gumbak Malelang ma
Geusi keubeue di teungoh blang, geukoh andam Madion ma
Si Malelang kaleh meukawen, puteh licen geuba bak raja.
Demikianlah, Syeh Hermi mengingatkanku pada cerita Malelang yang merupakan inti cerita dalam tari pho. Kisah haru pilu yang menjadi cerita wajib dan membudaya di Blang Pidie dan pantai barat selatan Aceh.
Apakah Hermi ada penggantinya?
Setahuku, sebagaimana Adnan PMTOH dalam seni tutur, Hermi dalam tari belum ada penggantinya. Dengan menyakitkan terpaksa kukatakan, bahwa setiap seniman yang pergi di Aceh, hampir selalu tidak ada penggantinya.
Sebagai contoh, setelah kepergian Ali Hasjmy, Aceh tidak memiliki sastrawan yang serba bisa dan mampu mempengaruhi arah politik. Ini menyedihkanku, sebuah kesedihan yang tidak akan terobati kecuali Aceh mampu melahirkan seniman besar yang memperbaiki peradaban di masa ini dan mendatang. Banda Aceh 31 Juli 2016.[]
Setelah pertemuan dengan Syeh Hermi hari itu, saya menulis artikel berjudul Sejarah Pho, Tari Tertua Di Aceh (Suatu Ketika Di Blang Pidie) di Peradabandunia.com.


