BANDA ACEH – Gadis berumur 20 tahun itu bercerita terkait tragedi tsunami 12 tahun silam. Ia yang kala itu tinggal di Ulee Lheue, Banda Aceh, berkisah tentang rasa kehilangan dan duka lara.

Gadis cantik itu bernama Syafira. Ia satu-satunya yang masih hidup dari keluarganya. Ia selamat dari bencana 26 Desember 2004 lalu. “Fira saat itu selamat karena sempat naik ke rumah yang punya dua tingkat,” kata Fira, panggilan untuk Syafira saat bercerita tentang tragedi duka itu di hari peringatan 12 tahun tsunami, 25 Desember 2016, di pelataran Museum Tsunami.

Awalnya, Fira tersenyum menyapa khalayak. Namun, air matanya kemudian mengalir kala mengenang detik-detik bencana besar itu menyapu kampung halamannya. Ia terdiam. Tangannya menyeka air mata.

Dara kelahiran 25 Juni 1996 itu tampak tak sanggup menahan rasa haru saat mengenang kembali keluarganya yang telah tiada. Namun, ia berusaha kuat dan tabah menghadapi semua cobaan yang datang. Ia mengatakan itu semua takdir.

Fira berpesan kepada seluruh pengunjung di acara itu untuk menyayangi kedua orang tua, kakak, adik dan keluarga lainnya. Karena bagi dia sangat sakit kehilangan orang yang dicintai.

“Sayangi orang yang menyayangi kita, karena waktu tak pernah bisa diulang,” kata Fira.

Sama seperti korban gempa dan tsunami 26 Desember 2004, Fira berusaha bangkit dari puing-puing ingatan yang lara. Ia terus menggapai impiannya. Fira yang kini tinggal bersama keluarga ibunya itu sedang kuliah di ISBI Aceh. Meski sudah 12 tahun, Fira mengaku tetap sedih ketika mengenang tsunami tersebut. “Kalau diingat kejadian itu saya jadi sedih,” katanya.[]