BANDA ACEH – Ketua Fraksi PAN DPR Aceh, Asrizal H Asnawi, menilai semua pihak yang berkompetisi di Pilkada Aceh adalah saudara. Hal ini juga termasuk para tim sukses dan simpatisan pendukung.
“Saya kira yang bertikai dua belah pihak itu adalah dua-duanya saudara. Mereka satu ibu, satu ayah dalam perjuangan. Damailah. Kasihan para syuhada-syuhada, kawan-kawan mereka yang sudah mendahului. Kasihanilah mereka, itu mereka tentu tidak menginginkan keadaan-keadaan seperti ini,” kata Asrizal, Senin, 2 Januari 2017, menjawab pertanyaan portalsatu.com terkait harapannya di Pilkada yang tidak lama lagi berlangsung di Aceh.
Seperti diketahui, proses menuju Pilkada Aceh sempat diwarnai beberapa kericuhan antarmassa pendukung kandidat kepala daerah. Teranyar kerusuhan Pilkada tersebut terjadi di Gampong Teupin Jareng, Aceh Timur. Kerusuhan ini melibatkan tim pendukung kandidat Bupati Aceh Timur Hasballah HM Thaib-Syahrul Syamaun dengan pendukung calon independen Ridwan Abubakar-Abdurrani, yang diwarnai dengan pengrusakan posko, pengrusakan baliho kedua belah pihak dan juga merusak satu unit mobil tim pemenangan Partai Aceh. Kedua kandidat tersebut sama-sama berlatarbelakang Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang pernah senasib sepenanggungan dalam perjuangannya. Begitu pula para pendukung kedua paslon yang diketahui juga eksil GAM.
“Karena itu dua-duanya saudara. Lebih bagus berdamai, kalau memang mau ikut di ajang demokrasi, berdemokrasi lah dengan baik, aturan sudah ada, jangan langgar aturan, jangan saling mencari kesalahan. Intinya jangan tinggi dengan menjatuhkan orang lain,” kata Asrizal.
Dia berharap para kompetitor kedua belah pihak untuk menyampaikan apa saja yang hendak dilakukan kepada masyarakat. Ini termasuk program-program atau visi misi kandidat.
“Kalaupun sekarang tidak bisa baik, tetapi janganlah ribut. Beda itu kan bukan berarti kita tidak bisa hidup berdampingan. Air dan minyak itu kan beda, tetapi bukan berarti tidak bisa hidup berdampingan,” kata Asrizal.
Seperti diketahui, pendukung Rocky dan Nektu sepakat berdamai usai dimediasi Kapolres Aceh Timur AKBP Rudi Purwiyanto pada Senin, 2 Januari 2017 kemarin. Kesepakatan berdamai tersebut ditempuh usai musyawarah alot yang berlangsung di Mapolres Aceh Timur. Kedua kubu juga berjanji untuk tidak mengulangi perbuatannya di kemudian hari.[]

