BANDA ACEH – Ketua komisi 7 DPRA, H. Ghufran Zainal Abdin, MA, mengapresiasi dan memberikan dukungan kepada penyelenggara pameran 'Mengenal Batu nisan Aceh – Sebagai Warisan Budaya Islam di Asia Tenggara” di Museum Aceh, 9-16 Mei 2017.
Pernyataan apresiasi ini disampaikan Ghufran saat mengunjungi gedung pameran di Musem Aceh, Sabtu (13/5/2017).
Kehadiran ketua komisi 7 ini adalah dalam rangka menyaksikan sekaligus memberikan dukungan moril serta apresiasi kepada penyelenggara dan para voluntir kelestarian sejarah Aceh dan Islam yang telah bekerja keras untuk menampilkan sejarah keagungan dan kejayaan Islam melalui situs sejarah berbentuk batu nisan yang fenomenal ini.
“Pameran ini mampu menghadirkan nuansa kegemilangan Islam masa lalu yang heroik hingga ke Patani, Thailand Selatan. Pemandu yang melayani kami juga mampu menjelaskan secara detail setiap keingintahuan pengunjung,” kata Ghufran.
Ghufran mengatakan, apa yang ditampilkan sekarang tentu sangat bermanfaat bagi generasi muda. Aceh memiliki sejarah yang luar biasa, kekayaan intelektual dan pengaruh yang kuat di kawasan, hubungan yang baik dengan Turki, dan beberapa negara asing lainnya secara elegan dan terhormat. Kekuatan pasukan dan kemampuan menjaga Selat Malaka, itu sudah dimiliki Aceh sejak zaman dulu.”
“Untuk itu kami di komisi 7 yang membawahi bidang agama dan budaya, akan mendukung penuh upaya pelestarian sejarah dan akan memperjuangkan alokasi anggaran terbaik untuk pelestarian sejarah” kata Ghufran.
Ghufran Zainal Abidin, yang juga Ketua DPW PKS Aceh ini meminta pemerintah Aceh untuk juga memberi perhatian serius terhadap kelestarian sejarah dan budaya. Baik melalui dukungan moril juga melalui alokasi anggaran yang layak.
“Sejarah menentukan masa depan bangsa kita. Kepahlawanan menguatkan harga diri kita”.
Pameran bertajuk mengenal batu nisan Aceh ini dibuka oleh Wali Nanggroe Aceh pada 9 Mei 2017 dan akan berakhir pada 16 Mei mendatang. Pameran ini memajang koleksi asli 18 batu nisan, yang terdiri atas 4 batu nisan koleksi Kesultanan Pasai, 3 koleksi Kerajaan Lamuri, serta 11 koleksi batu nisan zaman Kesultanan Aceh Darussalam.[]


