Minggu, Juli 21, 2024

Tokoh Masyarakat Kota Sigli...

SIGLI - Para tokoh masyarakat dari 15 gampong dalam Kecamatan Kota Sigli menyatakan...

Tim Polres Aceh Utara...

LHOKSUKON – Kapolres Aceh Utara AKBP Nanang Indra Bakti, S.H., S.I.K., bersama jajarannya...

Pasar Malam di Tanah...

SIGLI - Kegiatan hiburan Pasar Malam yang digelar di tanah wakaf Tgk. Dianjong,...

Tutup Dashat, Kepala DPMPPKB...

ACEH UTARA – Kegiatan Dapur Sehat Atasi Stunting (Dashat) yang dilaksanakan secara serentak...
BerandaKetua Komisi V...

Ketua Komisi V DPRA Menduga Ada Permainan di ULP Aceh

BANDA ACEH — Ketua Komisi V Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) M Rizal Falevi Kirani, mencium ada aroma tidak sedap di Unit Layanan Pengadaan (ULP) Aceh, yang kemudian menyebabkan penggranatan rumah Plt. Kepala ULP Aceh, Said Azhari.

Menurut Falevi, DPRA segera memangil Kepala ULP Aceh untuk meminta klarifikasi soal dugaan persekongkolan pada proses tender proyek. 

Falevi mengatakan, pihaknya juga akan meminta Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) untuk segera menyelidiki kasus pemenangan tender yang diduga dikelola pihak-pihak tertentu di ULP Aceh.

Falevi menilai ada permainan pada tender sejumlah proyek sumber Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh (APBA), dana Otonomi Khusus (Otsus), dan APBN, yang diikuti sejumlah perusahaan rekanan.

“Anehnya perusahaan yang akan mengerjakan proyek beda, tetapi orang dalam perusahaan itu sama. Misalnya di perusahaan A, dia sebagai direktur utama, sedangkan di perusahaan B dia sebagai wakil direktur. Ini kan aneh, kenapa bisa diloloskan pada proses tender, orang dalam perusahaan sama. Cuma nama-nama perusahaan yang beda,” ungkap Falevi, Minggu, 22 Maret 2020, di Banda Aceh.

Dia menyebutkan, modus operandi yang dimainkan rekanan, untuk memudahkan monopoli proyek di Aceh pada proses tender. Sehingga setelah diumumkan proses lelang di ULP Aceh, perusahaan yang mengerjakan orang sama, hanya nama perusahaan berbeda. “Strategi ini sangat mulus dan halus, juga sulit untuk diungkap, hanya yang mengetahui ULP Aceh,” jelas Falevi.

Falevi menduga proses tender proyek di ULP Aceh Aceh ada permainan untuk memenangkan perusahaan tertentu. Sehingga, kata dia, ekses ini diduga berbuntut panjang sampai terjadi penggranatan rumah Plt. Kepala ULP Aceh. “Mungkin ada rekanan lain yang kecewa. Sehingga melakukan aksi teror penggranatan,” ujarnya.

Oleh karena itu, Falevi meminta Polda Aceh untuk menggungkap pelaku penggranatan rumah kepala ULP Aceh, termasuk motif kasus tersebut. Diduga pelaku kecewa dengan proses tender proyek melalui ULP Aceh tidak sesuai dengan prosedur. “Pelaku penggranatan harus diusut tuntas. Apakah berkaitan dengan proses tender. Tentu kalau proses tender tak beres juga harus diusut,” pungkasnya. [Khairul]

Baca juga: