BANDA ACEH – Kaum pencinta film di Aceh yang mendesak pemerintah kota Banda Aceh untuk mendirikan bioskop mendapat tanggapan dingin dari Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh.

“Dalam film itu apa isi yang disampaikan? Kalau film tersebut mendidik dan sesuai syariat pasti akan kita dukung,” kata Ketua MPU Aceh, Prof. Dr. Tgk. H. Muslim Ibrahim, MA, kepada portalsatu.com, di ruang kerjanya, Banda Aceh, Selasa, 7 Juni 2016.

Menurut Muslim Ibrahim, eforia pencinta film di Aceh memang sangat besar, akan tetapi film yang seperti apa nantinya yang akan diputar di bioskop tersebut, ini yang menjadi pertanyaan.

“Kalau nantinya didirikan bioskop di Aceh tentu harus sesuai syariat, filmnya juga harus yang mendidik dan islami,” ujar Muslim.

Dia menyadari perkembangan tekhnologi yang berkembang dalam pemberian informasi kepada masyarakat tidak bisa dibendung. Belum ada bioskop masyarakat sudah bisa menonton film dengan membeli kaset DVD atau VCD  yang relatif lebih murah.

Dia juga menganggap banyak film yang bagus yang bisa ditonton dibioskop seperti film yang bernuasa budaya Aceh, film sejarah, film-film dekumenter dan film yang terselip syiar dan dakwah Islam.

Dia menceritakan bahwa saat itu dia juga  pernah menonton di bioskop di kawasan peunayong. Film yang diputar menceritakan tentang kelahiran nabi dengan berbahasa Arab.

“Setelah menonton film seperti ini iman kita juga bertambah. Film-film seperti ini lah sangat yang kita harapkan,” katanya.

Yang menjadi permaslahan, kata dia, pada setiap kehadiran bioskop adalah MPU harus mengetahui apa dampak negatifnya ke depan, karena yang sudah beredar di luar masih banyak film yang berisi hal-hal yang merusak moral dan akidah dan itu ditonton dibioskop.

“Kalau hal-hal seperti ini terjadi lebih bagus tidak usah didirikan. Yang terpenting adalah tujuan pendirian bioskop itu harus dijawab dulu, kalau tujuannya baik dan yang diputar film-film yang islami dan memperbaiki akidah pasti akan didukung,” katanya.

Akan tetapi, kata ulama ini, yang menjadi permaslahan berapa banyak film-film seperti itu nantinya, karena sudah pasti akan terbatas.

“Jangan saat sudah didirikan bioskop namun film yang diputar terbatas kan sudah menimbulkan kerugian dan sangat mubazir.

Mengenai pendirian bioskop di Aceh, MPU harus mengambil keputusan dengan bermusyawarah karena majelis adalah sebuah lembaga yang hasil keputusannya adalah pendapat para anggota majelis.

“Kita harus musyawarahkan dulu nantinya terkait apa yang diuntungkan dan dampak-dampak negatifnya sebelum didirikan bioskop di Aceh,” pungkas Muslim Ibrahim.

Laporan Ramadhan