BANDA ACEH – Ketua Rumah Kreasi Indonesia Hebat (RKIH), Iswadi, menilai Pemerintah Aceh tidak becus mengurus Pekan Inovasi Nasional (PIN) dan Teknologi Tepat Guna (TTG) Aceh.

“Seharusnya Pemerintah Aceh melaksanakan evaluasi rutin untuk kegiatan tersebut. Karena kegiatan tersebut sangat berpengaruh terhadap peningkatan ekonomi rakyat dan menambah PAD (Pendapatan Asli Daerah),” kata Iswadi melalui siaran persnya kepada portalsatu.com, Sabtu, 10 Oktober 2015.

Mantan Pembantu Dekan III FKIP Universitas Serambi Mekkah itu juga mengatakan mahalnya harga untuk jasa bekam tradisional di arena membuktikan Pemerintah Aceh tidak becus mengontrol acara. Dia menilai Pemerintah Aceh berpersepsi keliru terhadap kesuksesan acara. 

“Kesuksesan acara gak bisa dinilai dengan pembukaan seremonial saja. Akan tetapi harus dievaluasi secara menyeluruh terhadap kondisi tersebut. Seharusnya dengan anggaran sebesar Rp 17,8 miliar Pemerintah Aceh bisa menyukseskan acara tersebut dengan berkesan agar para wisatawan tertarik untuk ke Aceh,” ujarnya.

Dia mengatakan sebenarnya PIN & TTG adalah momentum untuk Pemerintah Aceh menarik investor ke Aceh dan jangan malah terjadi sebaliknya. Belum lagi dengan sulitnya ditemukan pusat informasi di Arena TTG yang mencerminkan tidak bertanggunjawabnya panitia terhadap kelancaran acara.

“Indikator kesuksesan TTG ke XVII bukan di seremonial belaka dan bagi-bagi giok. Akan tetapi dari kualitas dan kenyamanan pengunjung selama acara berlangsung,” katanya.[](bna)