Rabu, Juli 24, 2024

Tinjau Venue PON XII,...

SIGLI - Pemerintah Kabupaten Pidie meminta rekanan terus memacu pekerjaan tiga venue yang...

Wali Nanggroe dan Mualem...

JAKARTA – Wali Nanggroe Aceh Paduka Yang Mulia Tgk. Malik Mahmud Al Haythar...

Balai Syura: Perempuan Aceh...

BANDA ACEH - Balai Syura Ureung Inong Aceh dan seluruh elemen gerakan perempuan...

Pemko Subulussalam dan Pemkab...

SUBULUSSALAM - Pemerintah Kota (Pemko) Subulussalam menjalin kerja sama atau MoU dengan Pemerintah...
BerandaKisah Hidup Suku...

Kisah Hidup Suku Mundari, Mandi Kencing Lembu Tiap Pagi

SUDAN – Malam hampir tiba di tepi Sungai Nil tepatnya di peternakan Mundari dan seorang anggota suku muda terlihat memulai rutinitas sehari-harinya – setelah membersihkan gigi dengan tongkat, ia kemudian memandikan kepalanya dengan (maaf) kencing sapi.

Meskipun terlihat jorok, hal itu membantu mencegah infeksi dan juga membuat rambut mereka menjadi berwarna orange.

Suku kecil Mundari di Sudan Selatan ini hidup dengan sapi-sapi mereka, yang mewakili kekayaan, status dan mahar – dan fotografer Tariq Zaidi adalah salah satu dari sedikit orang yang menangkap pola hidup mereka.

Pria muda itu terus melakukan ritual sehari-harinya.

Dia kemudian meminum susu segar langsung dari sapi sambil membawa drum sebagai alarm yang mengingatkan ternaknya bahwa sudah waktunya untuk merumput.

Tidak hanya urin sapi yang memberikan perlindungan bagi rakyat Mundari, suku juga mengolesi abu yang dicampur dengan hasil pembakaran kotoran sapi pada kulit mereka.

Itu seperti bedak yang mengandung antiseptik dan pengusir nyamuk alami, juga menawarkan perlindungan dari teriknya matahari Sudan pada mereka dan ternaknya.

Menggambarkan hubungan suku dengan sapi, Zaidi mengatakan dikutip dari Mail Online: “Sapi adalah hal yang paling penting dalam hidup mereka. Dan mereka akan melindungi ternaknya dengan segala cara. ”

Setiap tahun di Sudan Selatan, ada sekitar 350.000 sapi dan lembu yang dicuri, dan lebih dari 2.500 orang tewas akibat pencurian tersebut. Karena itu, banyak anggota suku yang rela menggelontorkan uang sekira Rp 6,6 juta untuk membeli senapan.

<!–EndFragment–><!–StartFragment–>

“Hewan ini diperlakukan seperti anggota keluarga, “kata fotografer. “Ketika sapi kembali dari padang rumput, mereka tahu persis di mana tuan mereka dan di mana rumah mereka – mereka terlihat seperti anjing. Keluarga akan tidur dengan ternak, memandikan mereka dengan abu dan memastikan tanah yang akan mereka tiduri nyaman dan bersih. ”

Sapi yang mereka pilihara disebut Ankole-Watusi – sapi putih dengan dengan tanduk khas yang melengkung, juga dikenal sebagai ‘sapi dari raja-raja’.

“Setiap orang Mundari yang saya temui memiliki sapi favoritnya, “kata Zaidi. “Itu adalah miliknya yang paling berharga dan refleksi dari dirinya.”

Ternak digunakan baik sebagai mata uang dan sebagai simbol status, dan merupak warisan keluarga atau mas kawin.

Tariq Zaidi telah menghabiskan 10 tahun terakhir memotret suku di lebih dari 30 negara di Afrika. Sudan Selatan ini bisa dibilang yang paling tidak stabil.

Setidaknya, 50.000 orang diperkirakan telah tewas sejak perang saudara dimulai di negara itu pada bulan Desember 2013 dengan lebih dari 2.2 juta orang mengungsi dan berada diambang kelaparan.

Konflik telah menyebabkan orang-orang Mundari terus menggiring ternak mereka di sepanjang tepi sungai Nil.

“Perang yang berlangsung di Sudan Selatan telah mengurangi suku Mundari di dunia, “kata Zaidi. “Mereka tidak berani ke kota, mereka tinggal di semak-semak, dan itulah mengapa cara hidup mereka yang unik terus berlangsung.”[]Sumber:tempo.com/http://manadotoday.co.id

Baca juga: