SIGLI –  Nabi Adam as., adalah manusia pertama yang diciptakan oleh Allah swt., sampai kemudian diturunkan ke bumi. Saat di surga, nabi Adam tak sendirian. Adam ditemani Siti Hawa yang kemudian menjadi istrinya.

Siti Hawa yang diciptakan Allah setelah nabi Adam, tidak serta merta menjadi kekasih halal manusia pertama ini. Ada proses layaknya pernikahan. Itulah sekilas kisah disampaikan Teungku Ibrahim Ahmad dari Sigli saat menjadi khatib di Masjid Baitul’aliyah Tgk. Poja, Kemukiman Leupeuem, Kecamatan Sakti, Kabupaten Pidie, Jumat, 28 Januari 2016.

Dalam khutbah singkat tersebut, Teungku Ibrahim mengisahkan bahwa malaikat sudah mempersiapkan segala kebutuhan pernikahan Adam dan Hawa, kecuali mahar (Aceh: jeulame). Sampai akhirnya malaikat Jibril melapor kepada Allah.

Malaikat Jibril melapor bak Allah bahwa mahar golom na. Peu geujaweub le Allah? Meunyoe meunan yue meuseulaweut keu Muhammad,” ucap khatib dengan aksen Aceh yang kental.

Teungku Ibrahim melanjutkan kisah tersebut. Kata dia, saat itu nabi Adam sempat protes. Adam menanyakan siapa Muhammad tersebut, sehingga dirinya harus berselawat kepada Muhammad.

Geupeugah le Allah, dengan sebab na nabi Muhammad, na keuh alam semesta nyoe,” ujar khatib.

Mendengar hal tersebut, Teungku Ibrahim melanjutkan, nabi Adam langsung berselawat kepada nabi Muhammad dengan ucapan “Allah shalli ‘ala sayyidina Muhammad“.

Teungku Ibrahim menyebut begitulah keagungan nabi Muhammad saw., yang dinobatkan sebagai nabi akhir zaman. Segala bentuk kemuliaan ada pada nabi Muhammad.

Teungku Ibrahim dalam khutbahnya juga sempat menyinggung beberapa paham yang mengatakan tidak boleh menggelar perayaan maulid. Ia membantah secara tegas hal tersebut.

Nyan pat dalil i jak peugah maulid han jeut peugot?” Teungku Ibrahim mempertanyakan.

Menurut Teungku Ibrahim, tidak ada dalil yang melarang untuk memuliakan hari besar kelahiran nabi Muhammad.

Nabi mantong geu peurayek uroe lahe geuh dengan berpuasa, man meunyoe tanyoe ta yue jak ureung u rumoh ta yue pajoh bu nyan kon seureukah. Jinoe pat dalil yang larang seureukah,” kata Teungku Ibrahim.[] (idg)