Bunga, begitu panggilannya. Bukan nama asli, karena tidak ada satupun yang tau latar belakangnya. Usianya sekitar 27 tahun, tapi tingkahnya sepeti anak usia 7 tahun. Aku sangat terkejut saat dia menyapaku dengan sebutan ibu, dengan ramah dia menyalamiku sambil mencium tanganku. Sontak aku terkejut, orang yang usianya lebih dewasa dariku mencium tanganku saat bersalaman.
Ibu,ibu, nama saya bunga, nama ibu siapa?
Ambil Bunga saja ya jadi pasien ibu, bunga orangnya baik.
Aku pun heran mendengar perkataannya, ternyata dia sudah duluan tau bahwa setiap mahasiswa praktik akan mengambil salah satu dari mereka untuk dijadikan pasien kelolaan. Aku pun membalas sapaannya dengan sikap penuh bersahabat.
Perkenalkan saya Arin, senang berkenalan dengan Bunga.
Kesempatan inipun tidak aku sia-siakan, aku langsung melakukan pengkajian untuk memperoleh data darinya.
Bunga sudah tinggal di Rumah Sakit Jiwa Sejak 10 tahun lalu, tepatnya setelah tsunami Aceh. Tidak ada satupun yang tahu siapa keluarganya dan darimana asalnya. Setiap kali ditanya jawaban berbeda-beda. Dia sering memanggil-manggil pamannya, dan berharap pamanya akan datang menjemputnya.
Penasaran dengan sosok bunga, akupun melihat datannya di status pasien. Dia adalah salah satu korban tsunami Aceh 2004, yang masuk karena gangguang mental yang disebut sebagai skizofrenia.



