IDI RAYEK – Maulidin, 25 tahun, menderita buta mata sejak enam tahun lalu. Warga miskin di Dusun Neubok Bunta, Desa Teupin Breuh, Kecamatan Simpang Ulim, Aceh Timur, itu butuh perhatian pemerintah.

Maulidin sudah menjadi kepala keluarga sejak 1,5 tahun lalu setelah menikah dengan Ratna Sari, 19 tahun. Pasangan suami istri itu telah dikaruniai seorang anak yang kini berumur 6,5 bulan bernama Muhammad Ikbal. Keluarga kecil tersebut menetap di depan rumah orangtuanya di Dusun Neubok Bunta.

Kelak, Maulidin berharap bisa melihat wajah sang istri dan buah hatinya itu. Ia sudah berobat ke sejumlah rumah sakit, termasuk RSUDZA Banda Aceh, setahun lalu, hingga dirujuk ke Penang, Malaysia. Namun, Maulidin belum dapat melihat kembali dunia ini.

Faktor ekonomi kemudian menghambat langkah Maulidin untuk kembali berobat. Kini ia pasrah dengan nasibnya. Apalagi, istri dan anaknya kerap kekurangan makanan. “Pane na, meu susu sinyak kadang hana ngon bloe. Jinoe ie bu lon bi kadang-kadang geulantoe susu,” kata pria yang akrab disapa Maimun itu ditemui portalsatu.com di kediamannya, 26 Juni 2017.

Maimun merupakan anak kedua dari tiga bersaudara. Orangtuanya, Nurdin dan Hasanah, sudah berpisah sejak Maimun masih kecil. Ia dan kakak dan adiknya hidup bersama ibunya hingga saat ini. Sejak ia menderita buta mata, sang ayah juga tak kunjung pulang.

Sejak dahulu, pekerjaan Hasanah menjahit daun nipah suruhan tetangganya. Hasil pekerjaan itu, sang ibu membesarkan anak-anaknya. Namun, Hasanah tidak mampu membiayai Maimun kecil untuk menyelesaikan sekolah dasar.

Kini Maimun telah dewasa dan menjadi seorang bapak. Beban keluarga harus dipikul untuk membesarkan seorang anak dan istrinya. Saat ini, ia melewati hari-harinya dengan menemani warga lain memancing ikan di aliran Sungai Arakundo menggunakan sampan (perahu) mesin ukuran mini.

Sampan itu milik salah seorang warga Kuta Binje, Kabupaten Aceh Timur yang prihatin dengan nasib Maimun. Sampan itu dititipkan kepada Maimun dengan harapan agar bisa disewakan kepada orang yang memancing ikan di pedalaman Aceh Timur.

Pekerjaan itu memang berisiko bagi Maimun yang menderita buta mata. Namun, terpaksa dijalani demi memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. “Meunyoe na ureung keumawe, sampan nyoe dipakek, lon dipakat keu ngon. Wate woe na dijok peng meu 30 ribe, kasep ngon bloe breh si are,” ujar Maimun sembari menebar senyum.

Maimun bersama keluarga kecilnya tetap merasa bersyukur meski harus menempati gubuk dengan dinding berkonstruksi pohon rumbia dan papan dari pohon pinang. Gubuk itu memiliki satu ruangan tidur yang disekat plastik sebagai pemisah dengan ruang tamu. Tidak ada penerangan listrik di rumah sempit itu.

Ia mengaku telah ramai dikunjungi pihak tertentu untuk meminta identitas keluarganya sembari memotret gubuknya itu. Namun, hingga kini pemuda buta itu bersama istri dan buah hatinya masih menghuni gubuk derita.[]