Sabtu, Juli 20, 2024

Peringati Haul Abati Banda...

LHOKSEUMAWE - Ratusan jamaah Tarbiyah Islamiyah Mazhab Syafi'i Aceh menggelar pawai akbar dalam...

Pj. Bupati Aceh Utara...

ACEH UTARA - Pemerintah Kabupaten Aceh Utara menyerahkan bantuan masa panik secara simbolis...

Sekum PB PON Wilayah...

BANDA ACEH – Progres pembangunan beberapa venue untuk Pekan Olahraga Nasional (PON) XXI...

PT PIM Bantu Korban...

ACEH UTARA - PT Pupuk Iskandar Muda (PIM) menyerahkan bantuan kepada korban badai...
BerandaNewsKisah Sayap-Sayap Patah...

Kisah Sayap-Sayap Patah Dua Tokoh Aceh

KISAH cinta dua hati suami istri ibarat sepasang sayap. Jika salah satunya pergi, hidup ‘pun terasa patah. Begitulah kisah sayap-sayap patah dari dua sosok tokoh Aceh, Tengku Muhammad Yusuf A. Wahab yang akrab disapa Tu Sop dan Sulaiman Abda yang kerap dipanggil Bang Leman.

Tu Sop adalah ulama yang memimpin dayah terkenal Babussalam Al Aziziyah. Bang Leman adalah politisi yang kini menjadi Wakil Ketua DPR Aceh. Meski mereka tokoh, keduanya tetap manusia biasa. Saat kehilangan orang yang dicintai, rasa duka tetap menggayut di jiwa.

Hari ini, Jumat, 21 Agustus 2015, keduanya saling meneteskan air mata. Tu Sop berkisah tentang almarhumah yang akrab disapa ‘Bunda’. Dan, Bang Leman menyimak dengan bersahaja. Sama, istri Bang Leman juga akrab disapa dengan panggilan ‘Bunda’.

Istri Tu Sop, Hj Mardhiah meninggal di Malaysia pada Selasa, 18 Agustus 2015. Sedangkan Hj Hausmini, istri Bang Leman, meninggal di Jakarta pada 25 Mei 2015. Bang Leman sesekali menyeka air mata ketika Tu Sop berkisah ulang dialog-dialog dengan almarhumah, atau kala Tu Sop berkisah membesarkan hati anak-anaknya. Tu Sop juga sesekali menyeka matanya dengan kain sal. Suaranya kerap bergetar saat berkisah.

“Saya harus tegar. Jika saya lemah bagaimana dengan anak-anak saya,” kisah Tu Sop kepada Bang Leman.

Tu Sop memang lebih kuat dan tegar. Kepahaman agama membimbingnya untuk tidak lemah. Semua yang hidup pasti akan mati. Sebagai ayah Tu Sop juga harus bisa membesarkan hati kelima “boh hate” yang ditinggal almarhumah Bunda Mardhiah, yaitu Muzammil, 17 tahun, Luthfiana, 15 tahun, Muhammad Kamal Fasya, 9 tahun, Suhaimi, 5 tahun, dan Syukriana, 1 bulan.

Aneuk-aneuk watee nyan meungumpoi lam kama. Hana meusikrek diteubit haba. Tapi mandum ro ie mata,” kenang Tu Sop, lalu menyeka air mata.

“Neuk, Bunda memang sudah pergi. Tapi Bunda akan tetap bersama kita bila kalian semua berdoa untuk Bunda, berbuat baiklah sebagaimana nasehat Bunda. Insya Allah, kita akan kembali bertemu Bunda,” kata Tu Sop mengenang saat membesarkan hati anak-anaknya.

Sedangkan Bang Leman, keempat anaknya sudah dewasa. Dengan bekal pendidikan agama, keempat anaknya bisa tegar.

“Malah saya kalah tegar dengan anak-anak,” kisah Bang Leman kepada Tu Sop.

Kepada Bang Leman Tu Sop juga berkisah tentang dialog-dialog dengan almarhumah yang sangat dikenangnya.

“Ayah, jika Bunda pergi duluan, itu lebih baik. Ayah jauh lebih siap. Ayah bisa memaafkan Bunda. Tapi jika Ayah yang pergi duluan, Bunda belum tentu sekuat Ayah,” kenang Tu Sop.

Kali ini, Bang Leman pula yang menyeka air matanya. Mungkin Bang Leman teringat juga dialog-dialog penuh kenangan dengan almarhumah Bunda Hausmini. Ada juga yang sangat diingat Tu Sop dari almarhumah. Saat itu Tu Sop membangun pemahaman tentang arti cinta karena Allah SWT dan bedanya cinta karena nafsu.

“Bunda mencintai ayah karena Allah. Apa yang menjadi kesenangan Ayah, itu juga yang Bunda senangi,” kenang Tu Sop kepada Sulaiman Abda.

Bang Leman yang terus menunjukkan dukungannya atas rasa kehilangan yang dialami Tu Sop sesekali menyatakan sangat bisa mengerti arti kehilangan.

Ya, lagee masen sira. Hanya yang sudah merasa, yang paling paham,” kata Tu Sop merespon sikap Bang Leman yang terus menyatakan bisa ikut merasakan kesedihan hatinya.

Bustami Usman, Kepala Badan Pembinaan dan Pendidikan Dayah Aceh, ikut menyimak, dan sesekali ikut membesarkan hati kedua tokoh yang sama-sama sedang kehilangan kekasih hati.

Cinta memang ibarat burung dengan dua kepak sayapnya, dan kala ada yang pergi, kehidupan terasa patah. Tapi, cinta adalah juga seperti karang di lautan. Sekuat apapun terjangan badai, hidup haruslah terus berjalan. Semua milik Allah, dan kepada-Nya lah semua kita akan kembali.[](bna)

Baca juga: