BANDA ACEH – Komisi 2 Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) memastikan harga kebutuhan pokok di Banda Aceh dan Aceh Besar masih relatif stabil. Harga bahan pokok juga dinilai masih bisa ditolerir sesuai ketetapan pemerintah.
Demikian kesimpulan yang disampaikan Ketua Komisi 2 DPR Aceh, Nurzahri, kepada portalsatu.com, Rabu, 24 Mei 2017. Hal itu berdasarkan hasil sidak yang dilakukan Komisi 2 DPR Aceh ke Pasar Lambaro, Aceh Besar, Senin, 22 Mei 2017 lalu.
Ikut serta dalam rombongan yang dipimpin Ketua Komisi 2 Nurzahri ini, seperti Ramadhana Lubis, Tgk Khalidi, Yahdi Hasan, Sulaiman Ary, Aminuddin, Darmawan dan Jamidin. Bersama Komisi 2 juga ikut Ketua Satgas Pangan Aceh Kombes Pol Armensyah Thay, Kepala BI Perwakilan Aceh Ahmad Farid, Kepala Dinas Ketahanan Pangan Aceh Masnun, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Aceh Asmauddin, dan Kepala Badan POM Aceh Dra Syamsuliani, Apt, MM. Sidak tersebut dimulai pada pukul 10.00 WIB dan berakhir pada pukul 12.30 WIB.
“Harga-harga kebutuhan pokok masih relatif stabil dan masih dalam toleransi harga yang diperkirakan oleh pemerintah. Bahkan beberapa item kebutuhan cenderung relatif murah seperti cabai merah yang berada di kisaran 20 ribu rupiah perkilogram,” kata Nurzahri.
Berdasarkan hasil sidak tersebut, Komisi 2 DPR Aceh juga memastikan jika stok bahan pokok mencukupi hingga tiga bulan mendatang.
Selain sidak di Pasar Lambaro, rombongan juga memeriksa Gudang Bulog di jalan Soekarno-Hatta atau jalan Lambaro menuju Bandara SIM.
“Di Gudang Bulog, Komisi 2 memastikan kecukupan stok beras dan gula. Bulog memiliki stok beras sebanyak 45 ribu ton di seluruh gudang Bulog di Aceh, dengan kebutuhan konsumsi beras Aceh 8000 ton per bulannya. Sehingga stok tersebut mencukupi hingga 6 bulan ke depan,” ujarnya lagi.
Aceh juga memiliki 43 ribu ton stok gula yang diperkirakan cukup untuk kebutuhan warga. Lagipula, kebutuhan konsumsi gula di Aceh sebanyak 3-4 ribu ton per bulannya.
“Hanya saja gula yang dimiliki Bulog berjenis gula tebu produksi PTP, yang berwarna sedikit kecokelatan,” katanya.
Rombongan juga memeriksa kecukupan stok gula di gudang distributor PT Kande Agung, di Lueng Bata, Banda Aceh. Di lokasi ini, Komisi 2 mendapati 2 ribu ton gula pasir kristal putih. Berdasarkan informasi yang diterima Komisi 2, jumlah ini akan bertambah 2 ribu ton dalam 15 hari mendatang.
Seperti diketahui, gula di Kande Agung merupakan gula operasi pasar dengan harga eceran tertinggi sebesar Rp 12.500 per kilonya. Dalam sidak tersebut, Komisi 2 DPRA juga meminta kepada Kande Agung untuk mendistribusikan gula-gula tersebut secara merata di seluruh Aceh.
“Tetapi untuk Kabupaten Singkil dan Simeulue?, karena menurut informasi di kedua kabupaten tersebut stok gula sangat sedikit. Ke depan, Komisi 2 DPRA juga akan lebih sering turun ke lapangan untuk melakukan sidak harga dan ketersediaan kebutuhan pokok, bukan hanya di Banda Aceh bahkan di seluruh pasar kabupaten/kota di seluruh Aceh,” kata Nurzahri.[]




