SABANG – Ketua Komisi IV DPR RI, Siti Hediati Hariyadi meminta Pemerintah Aceh segera menyelesaikan pembangunan Kawasan Sentra Kelautan dan Perikanan Terpadu (SKPT) Ie Meulee, Sabang. Dia menegaskan pembangunan pelabuhan perikanan SKPT yang dimulai sejak tahun 2017 itu seharusnya sudah rampung dan bisa dimanfaatkan masyarakat khususnya nelayan.

“Sudah (mulai) dibangun dari 2017, tapi ini sudah tahun 2025, tapi baru kerangkanya saja. Dermaganya pun belum rampung. Ini jelas terlalu lambat dan harus segera dipacu,” kata Siti Hediati Hariyadi atau Titiek Soeharto usai memimpin Tim Kunjungan Kerja Reses Komisi IV DPR RI ke Sabang, Rabu, dilansir dari dpr.go.id, Senin, 14 April 2025.

Titiek Soeharto mengingatkan agar tidak ada penyelewengan dalam pembangunan SKPT yang mendapat bantuan luar negeri ini.

SKPT Sabang merupakan salah satu proyek strategis nasional yang mendapat dukungan dana hibah dari Pemerintah Jepang. Namun, fasilitas tersebut belum dapat memberikan kontribusi nyata bagi sektor kelautan dan perikanan setempat.

“Harus kita pacu lagi, padahal ini dapat bantuan hibah dari Jepang. Saya tadi tekankan kalau dapat bantuan dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya jangan dikorupsi atau diselewengkan,” kata Titiek yang merupakan politisi Fraksi Partai Gerakan Indonesia Raya (F-Gerindra).

Setelah melihat kondisi langsung di lapangan, Titiek memastikan akan mencari tahu penyebab terlambatnya penyelesaian SKPT. Dia berharap SKPT Sabang dapat segera tuntas dalam waktu dekat agar bisa dimanfaatkan nelayan.

“Kami ingin tahu masalah sebenarnya, semoga bisa dicarikan solusinya sehingga bisa segera selesai dan bisa digunakan para nelayan,” ungkap Titiek.

Titiek juga menyampaikan telah menugaskan Anggota Komisi IV DPR RI asal Aceh, T.A. Khalid, untuk dapat membantu mengawal proyek-proyek yang tertunda di Kota Sabang, termasuk penyelesaian SKPT agar segera dapat digunakan.

‘Pusat bisnis kelautan dan perikanan terpadu’

Sebelumnya, Menteri Kelautan dan Perikanan RI, Sakti Wahyu Trenggono melakukan groundbreaking ceremony pembangunan Pelabuhan Perikanan Ie Meulee SKPT Sabang pada Senin, 26 Agustus 2024. SKPT Sabang itu dibangun oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bekerja sama dengan Pemerintah Jepang. Proyek itu merupakan program bantuan Jepang melalui Japan International Cooperation Agency (JICA).

Menurut Trenggono, pembangunan pelabuhan perikanan SKPT salah satu upaya KKP dalam meningkatkan geliat ekonomi perikanan di daerah terluar yang ada di sebelah barat Indonesia. Pembangunan SKPT menjadi modal pembangunan daerah—daerah terluar yang memiliki wilayah perairan berbatasan dengan negara tetangga. Di mana daerah tersebut memiliki berbagai potensi sumber daya kelautan dan perikanan yang melimpah. Hal tersebut menjadi modal penting yang perlu dikelola secara berkelanjutan.

“Saya yakin dan percaya, pengelolaan yang semakin baik dan sinergi yang terus terbangun dengan berbagai pemangku kepentingan, daerah ini akan terus tumbuh dan berkembang menjadi salah satu sentra pembangunan kelautan dan perikanan di masa depan,” kata Menteri Trenggono, dikutip dari kkp.go.id.

Trenggono menjelaskan pelabuhan perikanan SKPT merupakan pusat bisnis kelautan dan perikanan terpadu mulai dari hulu sampai ke hilir, utamanya di pulau-pulau terluar dan kawasan perbatasan, yang ditujukan untuk meningkatkan perekonomian masyarakat lokal berbasis perikanan.

Trenggono berharap pembangunan ini dapat berkontribusi sebagai stimulan terhadap industri perikanan lokal dan untuk meningkatkan taraf hidup komunitas pesisir dengan nilai tambah produk perikanan yang lebih tinggi serta distribusi keluar pulau.

“Pembangunan ini juga diharapkan dapat mendukung program penangkapan ikan terukur dalam rangka proses tranformasi tata kelola perikanan tangkap nasional secara menyeluruh,” ungkapnya.

Head of Representatives JICA, Sachiko Tadeka menuturkan program ini memberikan dukungan fiskal bagi pengembangan fasilitas pelabuhan perikanan di pulau-pulau terluar yang digagas oleh KKP dan akan digunakan untuk membangun pelabuhan perikanan dan pasar ikan di enam pulau terluar Indonesia, salah satunya di Sabang, Aceh.

Pelabuhan perikanan ini nantinya diperuntukan bagi para nelayan skala kecil, yang akan dilengkapi dengan fasilitas gudang penyimpanan berpendingin dan fasilitas produksi es.

“Selain memberikan sarana dan prasarana bantuan, kami juga memberikan pelatihan tehnik dan seminar pengembangan perikanan kepada seluruh pengguna SKPT termasuk penduduk lokal dan pengelola fasilitas pelabuhan. Saya berharap program bantuan ini memberikan pengaruh besar terhadap masyarakat sekitar pesisir,” kata Sachiko Tadeka, dilansir laman KKP.[]