BIREUEN – Komisi VI DPR Aceh menilai banyak rumah sakit umum di Aceh salah informasi soal 'Bantuan Dana” dari Jerman untuk pembangunan 5 Rumah Sakit Regional. Daerah beranggapan pengerjaan rumah sakit regional sudah dimulai, padahal hingga kini bantuan tersebut belum mendapat rekomendasi dari pimpinan DPR Aceh sehingga belum pasti.
Hal itu disampaikan komisi VI saat melakukan kunjungan ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Fauziah Bireuen, Jum'at 29 Juli 2016. “Kami berharap kita bisa bersama-sama mendorong supaya menerima bantuan tersebut,” kata Ketua Komisi VI Iskandar Daod.
Disebutkan juga apabila batas waktu untuk menjawab bantuan tersebut adalah Agustus 2016 ini.
“Kami dari komisi VI juga bersama-sama akan memperjuangkan supaya bantuan jerman tersebut dapat mendapat rekomendasi dari pimpinan DPR Aceh,” lanjut Iskandar Daod.
Menurut Iskandar Daod, kesempatan untuk mendapat bantuan dana sebesar Rp.1,2 Trilyun, bila disetujui, baru akan dijalankan pada akhir 2017 mendatang, dan pegerjaannya pada 2018.
“Ini sangat ringan, karena pinjaman Jerman untuk 5 rumah sakit Regional baru dimulai pembayaran setelah berjalan 7 tahun. Apa susahnya bila kita berbicara untuk kepoentingan bersama,” katanya.
Pihak RSUD dr Fauziah sendiri sangat berharap rumah sakit regional dapat selesai dalam waktu dekat, mengingat kebutuhan fasilitas di tempatnya sangat terbatas.
“Namun kami juga sudah mempersiapkan beberapa alternatif lahan dan tenaga spesialis,” kata Direktur RSUD Fauziah dr Mucktar Haris kepada Anggota Komisi VI DPR Aceh.
RSUD dr Fauziah Bireuen merupakan rumah sakit yang tidak termasuk dalam kriteria rumah sakit regional, namun terus berbenah untuk mensinergikan dengan Rumah sakit Regional yang akan dibangun di Aceh Barat, Kota Langsa, Bireuen, Aceh Tengah, dan Aceh Selatan.
Komisi VI yang hadir adalah Ketua Isklandar Daud, Darwati A Gani, Hj Fatimah, Nuraini Mayda, Ummi Kalsum, Fauziah, dan Tarmizi. Pada kesempatan itu, Komisi VI meninjau ruangan RSUD Fauziah ditemani Direktur, Sekda Kabupaten Bireuen Zulkifli, dan Kepala Bappeda Ibrahim.[]

