ACEH UTARA – Komite Muallimin Aceh Sumatera Merdeka (KMASM) dan Majelis Komando Eks-Tripoli Libya menggelar zikir dan doa bersama dalam rangka menyambut bulan suci Ramadhan 1442 Hijriah, di Kompleks Makam Sultan Malikussaleh, di Desa Beuringen, Kecamatan Samudera, Aceh Utara, Ahad, 4 April 2021. Zikir dirangkai dengan samadiah akbar untuk para syuhada Aceh ban sigom donya dan tolak bala dari segala bentuk yang mengganggu Islam di Aceh (Ahlussunnah wal Jamaah).
Zikir dan doa bersama dipimpin Tgk. H. M. Yusuf Ali (Abon Paloh Batee) dan Tgk. H. Ahmad Tajuddin akrab disapa Abi Lampisang, dihadiri sejumlah ulama Aceh lainnya, para Panglima GAM Ban Sigom Aceh, masyarakat dan Anggota DPD RI asal Aceh, Fachrul Razi.
KMASM turut menyantuni 400 anak yatim, secara simbolis santunan diserahkan Ketua Komite Muallimin Aceh, Tgk. Zulkarnaini Hamzah (Tgk. Ni), usai samadiah tersebut.

Tgk. Ni mengatakan kegiatan ini dalam rangka menyambut bulan suci Ramadhan, sekaligus untuk menyantuni 400 anak yatim. Doa bersama yang dilaksanakan itu, kata Tgk. Ni, untuk kesatuan dan persatuan umat supaya tidak saling menyalahkan.
“Maka dalam momentum ini kita mempersatukan antarsesama, dan jangan saling mencurigai. Sehingga hari ini kita mengambil tafa’ul (optimis) atau berkat di Makam Sultan Malikussaleh, supaya kita semua dapat menjadi lebih tenang untuk ke depan,” kata Tgk. Ni kepada wartawan.
Menurut Tgk. Ni, bila sebelumnya ada perbuatan yang tidak terlepas dari kesipalan, maka para anggota GAM Ban Sigom Aceh perlu berkumpul di Makam Malikussaleh untuk dapat mengambil keberkatan dengan cara berdoa serta memohon kepada Allah SWT supaya mendapat ketenangan.
“Perlu kita sampaikan bahwa bangsa Aceh merupakan bangsa yang beradab, tapi orang lain yang menghina. Bangsa Aceh adalah bangsa yang kaya dan makmur, tetapi orang lain yang memiskinkan Aceh. Oleh karena itu, kita orang Aceh bagaimana mempertahankan martabat, jangan kita merusak apa yang sudah ada,” ujar Tgk. Ni.
Tgk. Ni menambahkan, “dari segi apa jangan sampai dirusak? Pertama sekali keistimewaan yang ada di Aceh, dan itu jangan sampai diganggu lagi karena bukan perkara mudah untuk mendapatkan keistimewaan tersebut. Apa yang sudah ada itu merupakan berkat perjuangan yang panjang, cuma bagaimana cara menjaga atau merawat dengan baik untuk ke depan. Baik para anggota DPRK, DPRA, DPR RI dan DPD RI yang mewakili Aceh”. []



