SEMARANG – Musibah gempa 6,5 SR yang melanda Pidie Jaya dan sekitarnya pada Rabu, 7 Desember 2016 lalu telah menggugah hati para pegiat seni Aceh di Semarang. Mereka tergabung dalam komunitas Ratoeh Jaroe Semarang Peduli Gempa Aceh.

Pembina Ratoh Jaroe Semarang, Zulfikar, 24 tahun, mengatakan, komunitas ini dibentuk atas dasar kepedulian terhadap masyarakat Aceh.

“Namun di sisi lain walaupun kami mayoritas bukan orang Aceh, tetapi sudah merasa bagian dari Bumi Serambi Mekkah, dengan senang dan bangga dalam melastarikan budaya Aceh di Semarang,” katanya.

Penggalangan dana dilakukan di berbagai tempat, di “Car Free Day” Simpang Lima semarang, fakultas dan sanggar dalam lingkungan UNDIP serta beberapa SMA di Kota Semarang sehingga terkumpul sebesar Rp. 11.317.000.

“Bantuan masyarakat dan kawan-kawan sanggar telah disalurkan pada hari Sabtu, 24 Desember di dua titik pengungsian, Pangwa Kuta Kecamatan Tringgadeng, dan Jiem-jiem Kecamatan Bandar Baru dalam bentuk barang sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat, seperti beras, daster, jilbab dan alas tidur atau kerpet busa,” tambah pria asal Jogja yang kerap disapa Zul Gendang.

Seperti yang diketahui, tarian Aceh seperti Ratoh Jaroe kini sudah sangat diminati oleh mahasiswa dan pelajar di Kota Semarang, yang kerap tampil di berbagai acara besar di Kota Pengeran Diponegoro ini.

“Doa dan bantuan yang kita berikan walaupun sedikit mudah-mudahan bermanfaat bagi saudara kita di Aceh, dan terima kasih buat semangat anak-anak sanggar serta masyarakat semarang, semoga Allah membalas dengan pahala yang berlipat ganda,” tutup Zul.

Ratoh Jaroe yang kini berada di semarang dibina oleh Zulfikar, M.Rizki Asyari dan Teuku Muhammad Rafsanjani.[]