Senin, Juli 22, 2024

Tokoh Masyarakat Kota Sigli...

SIGLI - Para tokoh masyarakat dari 15 gampong dalam Kecamatan Kota Sigli menyatakan...

Tim Polres Aceh Utara...

LHOKSUKON – Kapolres Aceh Utara AKBP Nanang Indra Bakti, S.H., S.I.K., bersama jajarannya...

Pasar Malam di Tanah...

SIGLI - Kegiatan hiburan Pasar Malam yang digelar di tanah wakaf Tgk. Dianjong,...

Tutup Dashat, Kepala DPMPPKB...

ACEH UTARA – Kegiatan Dapur Sehat Atasi Stunting (Dashat) yang dilaksanakan secara serentak...
BerandaKumandang Azan di...

Kumandang Azan di Pulau Kera

 KUPANG — Tak ada satu pun kera di Pulau Kera. Nama pulau kecil tersebut memang bukan berasal dari kera, si hewan berbulu kecokelatan dalam ordo primata.

Kata 'Kera' berasal dari istilah dalam bahasa Solor 'takera' yang artinya ember atau timba. Pemberian nama tersebut agaknya merujuk pada banyaknya wadah air yang digunakan warga yang hampir seluruhnya berprofesi sebagai nelayan. Pelafalan huruf 'e' pada 'Kera' juga tidak sama seperti menyebut huruf 'e' dalam kata emas. Pulau Kera diucapkan selayaknya huruf 'e' dalam kata enak.

Butuh waktu 45 menit hingga satu jam perjalanan laut menuju pulau yang menjadi bagian dari Taman Wisata Alam Laut (TWAL) Teluk Kupang itu. Perahu bisa disewa dari para nelayan di Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Oeba di Jalan Alor, Kupang.

Pasir putih Pulau Kera menyambut kedatangan dengan bentang biru laut yang bagai tanpa ujung. Pemandangan itu amat menggirangkan bagi rombongan warga kota besar yang kekurangan vitamin sea(sebutan gaul untuk rindu main di laut).

Dari kondisi lautnya yang tenang, perairan sekitar Pulau Kera cocok untuk berenang, berjemur, atau snorkeling. Apalagi, terik sinar matahari seakan sudah meninggi meski waktu masih menunjukkan pukul sembilan pagi.

Akan tetapi, rombongan kami tak punya banyak waktu untuk bermain air. Kami hanya berniat mengambil beberapa foto dan sejenak berkeliling pulau. Setapak dekat bibir pantai mengarahkan pelancong ke sebuah bangunan sederhana. Masjid dengan kubah limas warna biru berdiri di tengah pulau, setia mengumandangkan azan.

Arsyad Abdul Latif adalah Imam di Masjid bernama Darul Bahar tersebut. Ia telah menjadi pemimpin dalam kepengurusan masjid sejak bangunan itu berdiri pada 20 Februari 2000. “Tidak hanya untuk shalat, masjid ini juga digunakan untuk belajar,” ujar pria berusia 63 tahun itu.

Asad, panggilannya, menjelaskan, anak usia sekolah dasar belajar agama dan mengaji di sana. Tadinya, ada bangunan TPA yang berdiri sejak 2012, tetapi rubuh karena angin kencang pada 2014. Pendidikan di pulau tersebut memang kurang memadai. Keluarga yang hendak menyekolahkan anaknya harus mengirimkan putra-putri mereka menyeberang laut.

Selain ketiadaan sekolah, warga Pulau Kera juga belum memiliki fasilitas layanan kesehatan. Listrik di pulau seperti pengeras suara masjid atau televisi menyala berkat dinamo.

Ketertinggalan tersebut cukup disayangkan, mengingat lokasi Pulau Kera tak jauh dari Kota Kupang. Secara administratif, Pulau Kera berada di wilayah Desa Uiasa, Kecamatan Sulamu, Kabupaten Kupang, NTT.

Total terdapat 400-an jiwa dalam 97 keluarga yang tinggal di sana. Mereka mendirikan bangunan rumah semipermanen di pulau yang dihuni sejak 1911 itu.

Penduduk Kota ataupun Kabupaten Kupang memang mayoritas memeluk agama Kristen. Pulau Kera adalah perkecualian, dengan mayoritas warganya adalah umat Islam. “Sekitar 99 persen warga kami Muslim, mungkin hanya lima atau enam orang saja yang non-Muslim,” kata Asad.

Meski pembangunan belum menyentuh rata, Asad menyatakan, tak berkenan meninggalkan pulau tercintanya. Beberapa rencana relokasi penduduk ke daerah pegunungan Kabupaten Kupang pun tak disetujui mayoritas warga.

Pasalnya, ujar Asad, laut adalah sumber kehidupan bagi seluruh warga Pulau Kera. Mereka rela menghuni pulau kecil dengan masjid sederhana itu, sebagai pembeda di antara 44 pulau yang dihuni dari keseluruhan 1.192 pulau di NTT. Kami pun harus mengakhiri persinggahan di Pulau Kera untuk kembali ke Kota Kupang. Seiring laju kapal, kumandang azan terdengar lamat-lamat menyeru umat Muslim menyegerakan kewajibannya.[]Sumber:republika

Baca juga: