Oleh: Taufik Sentana*

 

Orang orang pergi ke hutan
disana mereka latihan menembak
untuk melatih kejelian dan ketelitian
seterusnya begitu
hingga menjadi terampil.

Di hutan, mereka bisa menembak apa saja, apa saja yang mereka suka dan anggap cocok sebagai sasaran. Boleh burung burung, anak rusa, dan beberapa hewan jinak.

Binatang buas tak mereka temukan lagi
mungkin karena binatang itu terlalu berani dan sigap berlari. Atau mungkin suatu persekongkolan dalam kebuasan dalam arena latihan yang sama.

Toh, ini hanya latihan, hanya kematian kecil, esok kita bisa latihan lagi di hutan ini.

Di tepi hutan, beberapa orang lainnya bersorak, untuk suatu keseruan dan kejanggalan. Andai setiap orang bisa menembak dan berlatih saban hari, apakah kita masih bisa membedakan antara kesenangan dan perburuan. 

Orang orang pulang dari hutan
tak membawa buruan. Hanya berkisah tentang asyiknya latihan menembak.

Suatu hari, kisah latihan menembak itu akan ia ceritakan kembali ke anak cucu: betapa sigap dan terampilnya ia melumpuhkan sehingga dicatat sebagai kemenangan.[]

*Pegiat literasi sosial