Karya: Taufik Sentana*
Setiap sungai akan sampai ke muara laut
Anak anak sungai menjalar
Bagai urat urat bumi yang lebar.
Sungai sungai itu tak hanya menjalar,
Tapi juga menari dan menempuh keruh waktu.
Sungai sungai itu menjadi saksi dari beragam peristiwa:
Pembunuhan dan penghidupan.
Kesedihan dan kegembiraan.
Sedih dan gembira menjalar di tubuh sungai
Bersama cerita kebeningan yang asing:
Asing dari makna sedih dan gembira
Atau asing dari kebeningan yang terpelihara.
Sungai menjadi perumpaan terbaik
Bagi kehidupan bumi.
Sebagaimana sungai menjadi Janji Keabadian.
Sungai Abadi penuh gembira dan kemenangan.
Sungai bagi Penempuh Kebenaran.
Bagaimana sungai kita kini?
Sungai sungai yang bercampur dendam,
Limbah industri dan keserakahan kota.
Sungai sungai itu akan sampai ke laut juga
Sebab ia siklus dan harmoni.
Dalam keadaan apapun,
seakan laut mendaurnya kembali,
Menjadi hujan yang jatuh di gunung gunung.
Lalu semua derita sungai akan tercampak di tepi laut
Menjadi hadiah yang buruk bagi manusia.
Kini, seorang lelaki tercenung
Membaca harmoni sungai dan laut
Membaca surat hujan kepada gunung gunung.
Lelaki itu melintasi celah celah sungai
Menuju laut.[]
*Banyak menulis puisi dan esai.



