Karya Taufik Sentana*

Lelaki itu hanya cemburu pada waktu:
waktu yang menyertainya
dan menyelubungi semua 
bilik rahasia.
Waktu yang masih selalu gagah
diantara pencarian fisika klasik
dan relativistik.
Waktu yang terus digali
dalam kuantum 
ataupun metafisikal.

Hanya pada waktu 
lelaki itu cemburu,
saat yang lalu
dan kini dapat ia sertai
sedang esok 
akan tetap ada
walau mungkin 
tanpa adanya si lelaki.

Pun banyak yang  semacam
meyakini bahwa waktulah
batasan yang tak bisa dilampaui,
adil dan zalim
atau baik dan buruk
tetap tampak
pada cermin waktu.

Tapi walau lelaki itu
selalu cemburu pada si waktu,  
namun ia menyadari satu hal. 
bahwa  si waktu
akan tetap tunduk pada  Ia
Yang Tiada Awal dan Akhir
bagiNya,
Yang Bahkan 
tak Butuh pada waktu:
Masihkah lelaki itu cemburu?[]

*Penikmat prosa eksistensial.