Ada beberapa hal aneh yang terjadi di Aceh dalam beberapa hari ini. Pertama, Aceh kembali kekurangan arus listrik setelah pasokan gas dari fasilitas regasifikasi milik Pertamina di Arun terhenti. Hal ini menyebabkan pembangkit listrik tenaga gas PLTMG Arun tidak dapat beroperasi untuk memasok listrik ke wilayah Aceh.

Berdasarkan keterangan Manajer Senior Public Relations PLN, Agung Murdifi, terhentinya pasokan gas Pertamina ke PLTMG Arun dikarenakan adanya gangguan hose fuel pada mesin milik PAG Arun sejak Minggu, 8 Mei 2016 pukul 22.00 WIB. 

Fenomena ini sepertinya bukan hal baru untuk suply arus listrik Aceh. Tempo hari, gangguan listrik juga terjadi di sejumlah kawasan di daerah ini. Penyebabnya juga disebut-sebut adanya gangguan teknis di PLTU Nagan Raya. 

Seperti kita ketahui, suply arus listrik Aceh berasal dari beberapa pos pembangkit listrik selain dari Medan, Sumatera Utara. Beberapa pembangkit listrik di Aceh yang beroperasi selama ini ada di PLTU Nagan Raya, kemudian PLTMG Arun, seterusnya PLTA Peusangan dan pembangkit listrik di Lueng Bata Banda Aceh.

Sejatinya, keberadaan sejumlah pembangkit listrik ini membuat Aceh seharusnya surplus listrik. Jika merujuk pernyataan Agung, beban puncak pemakaian listrik di Aceh saat ini mencapai 337 MW yang listriknya dipasok dari PLTU Nagan Raya, PLTD Lueng Bata, dan pasokan dari sistem kelistrikan Sumatera Bagian Utara. Sehingga, total pasokan listriknya mencapai 224 MW. Namun dengan rusaknya PLTMG Arun, maka Aceh kekurangan pasokan listrik hingga 105 MW. Setidaknya demikian penjelasan pihak terkait kepada media kemarin.

Hal ini jelas berbeda dengan keterangan Rektor Unsyiah, Prof Samsul Rizal, beberapa waktu lalu. Saat itu Aceh juga “kehilangan” pasokan listrik akibat gangguan teknis di PLTU Nagan Raya. Samsul Rizal saat itu mengungkapkan ketersediaan listrik Aceh mencapai 340 MW. Jika merujuk pernyataan antara kasus permasalahan listrik tempo hari dengan krisis listrik dua hari ini, maka ada selisih angka hingga 3 MW, ditambah minus peranan PLTA Peusangan dan PLTH Krueng Raya di Masjid Raya Aceh Besar.

Hal yang aneh adalah pasokan listrik untuk Aceh seakan-akan tidak pernah tercukupi. Padahal belakangan hari GM PLN Aceh Bob Syahril pernah mengaku suply arus listrik di Aceh cukup–bahkan lebih dan bisa dijual untuk daerah dan industri lain. Namun setiap tiba “musim arus listrik terputus”, ada saja alasan yang dikemukakan pihak terkait. Kerusakan ini justru terkesan mengada-ada.

Coba baca kembali napak tilas perjalanan mahasiswa dalam kegiatan bertajuk “Bersama PLN Menerangi Aceh” tempo hari. Kepada para mahasiswa, PT PLN turut memperlihatkan kondisi pembangkit listrik yang ada di Sumatera Utara–yang disebut-sebut sebelumnya kerap bermasalah memasok listrik untuk Aceh. Sehingga mereka meminta publik Aceh mau mengerti jika suply arus listrik sewaktu-waktu terputus.

Hal ini turut menyiratkan adanya kesan saling berlomba-lombanya kerusakan mesin pembangkit listrik suply arus untuk Aceh, baik PLTU Nagan, mesin pembangkit listrik untuk Aceh di Medan, dan teranyar PLTMG Arun. Jangan lupa, masalah pelik juga menimpa PLTA Peusangan yang hingga sekarang masih terkendala pembebasan lahan.

Jadi ada apa sebenarnya dengan listrik Aceh? 

Sebagai catatan, kemarin PDPA menandatangani kerjasama pengelolaan energi panas bumi atau geothermal Seulawah dengan PT Pertamina Geothermal Energy–anak perusahaan PT Pertamina. Tentu saja dengan keberadaan energi baru ini diharapkan permasalahan listrik di Aceh dapat diatasi. Harapan yang sama pernah juga disebut-sebut saat PLTMG Arun dan PLTU Nagan Raya diresmikan tempo hari.

Terlepas dari itu semua, entah apa yang terjadi dengan listrik Aceh hari ini. Listrik dan Aceh ka lage beuso berani antara kutub utara dan kutub selatan yang tidak bisa dipersatukan. Kita tentunya berharap geothermal benar-benar menjadi solusi mengatasi krisis listrik di Aceh, dan semoga ianya tidak seperti bu dalam hikayat “Jampok Ngon Kra” yang berpikir kulat batee adalah api.[]