ACEH BESAR – Dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional 2025 , diselenggarakan Lomba Baca Kitab Kuning se-Aceh Besar dengan mengusung tema “Menggali Turats, Merawat Marwah Aceh.”Kegiatan ini berlangsung khidmat di Dayah Lantansa Al-Amiriah, Aceh Besar, pada Rabu 23 Oktober 2025 / 1 Jumadil Awal 1447 H.
Kegiatan tersebut diikuti oleh 50 santri terbaik dari berbagai dayah di wilayah Aceh Besar. Para peserta menampilkan kemampuan dalam membaca, menerjemahkan, dan memahami isi kitab kuning warisan keilmuan Islam klasik (turats) yang menjadi identitas utama pendidikan dayah di Aceh.
Dalam arahannya, Dewan Hakim Lomba menyampaikan apresiasi atas semangat para peserta yang menunjukkan dedikasi tinggi terhadap ilmu-ilmu keislaman klasik. Menurut dewan hakim, kemampuan membaca kitab kuning bukan hanya ukuran intelektual, tetapi juga cerminan kecintaan santri terhadap khazanah keilmuan ulama terdahulu.
“Santri bukan hanya dituntut untuk mampu membaca dan menerjemahkan, tetapi juga memahami makna yang terkandung dalam setiap teks kitab. Dengan demikian, nilai-nilai keilmuan dan adab yang diwariskan ulama bisa terus hidup di tengah masyarakat,” ujar salah satu dewan hakim dalam sambutannya.
Dewan hakim juga menegaskan bahwa pelestarian tradisi membaca kitab kuning menjadi bagian penting dari menjaga marwah Aceh sebagai daerah berperadaban Islam yang kuat.
“Kegiatan seperti ini harus terus digalakkan. Turats adalah warisan besar yang mengandung nilai moral, sosial, dan spiritual. Tugas santri hari ini adalah menjaga, mengembangkan, dan mengamalkannya dalam kehidupan nyata,” tambahnya.
Salah satu peserta lomba turut menyampaikan rasa syukur dan kebanggaannya atas terselenggaranya kegiatan tersebut.
“Saya merasa bangga bisa ikut berpartisipasi. Lomba ini bukan hanya tentang kemampuan membaca kitab, tapi juga bentuk cinta kami kepada turats dan warisan ulama Aceh. Semoga kegiatan seperti ini terus diadakan setiap tahun dan bisa meningkat ke tingkat provinsi,” ujarnya penuh harap.
Melalui kegiatan ini, para dewan hakim berharap semangat santri dalam menggali ilmu keislaman terus tumbuh, serta mampu menjaga marwah dan jati diri keilmuan Aceh,sebagai daerah yang dikenal dengan tradisi keulamaannya yang kokoh.[]




