BANDA ACEH – Karya seni rupa kontemporer, karya pelukis Aceh Mahdi Abdullah bertemakan: Trans Memorabilia, dipamerkan dalam rangkaian Pertemuan Ilmiah Internasional serta Gelar Budaya Aceh 2016 (International Conference and Cultural Event of Aceh 2016), di Melbourne, Australia, 14 sampai 29 September 2016.
Ketua panitia, Ari Pahlawi mengatakan, Mahdi Abdullah adalah pPelukis kelahiran Aceh yang kini menetap di Yogyakarta. Mahdi termasuk salah seorang pelukis nasional Indonesia yang andil dalam mempromosikan keberagaman kebudayaan nasional Indonesia melalui karya-karyanya yang telah dipamerkan di berbagai kota besar di dunia. Di antarannya, Jerman, Vietnam, Jepang, termasuk sejumlah kota di Indonesia.
“Karya-karya Mahdi Abdullah banyak merepresentasikan bagaimana realitas kehidupan sosial dan kebudayaan di Aceh baik dalam perspektif sejarah, pengalaman sebelum dan sesudah konflik di Aceh, hingga setelah terjadinya bencana tsunami di Aceh,” kata Ari dari Melbourne.
Pameran Karya Seni Rupa Kontemporer karya Mahdi Abdullah ini digelar di MADA Gallery, Monash University Melbourne, Australia.
Ari mengatakan, program ICCE of Aceh 2016 merupakan lanjutan dari ICCE of Aceh 2008 di Honolulu, Hawaii, Amerika Serikat.
Selain memamerkan karya Mahdi Abdullah, kata dia, ICCE of Aceh 2016 diisi kegiatan terbuka: Festival Gampong Aceh: Aceh: the Color of Indonesian Diversity, kata Ari Palawi, 15 September 2016. Kata dia, Pertemuan Ilmiah Internasional di Monash University selama tiga hari berturut-turut, Senin-Rabu, 26-28 September 2016.
Ada juga kegiatan Pameran Benda Budaya Keunebah Indatu, Warisan Budaya Aceh-Sumatra, dimulai sore hari pertama penyelenggaraan pertemuan ilmian internasional dan digelar di koridor Auditorium Gedung Pertunjukan Seni, Monash University, Melbourne, Australia, mulai 26 September hingga berakhirnya nanti Desember 2016.
Acara ini juga dimeriahkan dengan Aceh Documentary FIlm Festival, lima kali pemutaran, dari 16 sampai 28 September 2016, bekerja sama dengan kreativitas sineas muda Aceh yang terhimpun dalam Aceh Documentary Foundation.
Selain itu ada pertunjukan seni Piyasan Aceh, apresiasi terhadap tradisi berkesenian mMasyarakat di Aceh. Ini merupakan acara puncak pertama yang menampilkan kreasi dan kreativitas koreografer, syeh (pewaris budaya) dari selatan Aceh dan Kepulauan Banyak dan Nagan Raya, serta penari yang terhimpun dalam jejaring Pusat Kajian dan Pengembangan Seni Universitas Syiah Kuala, kata Ari Pahlawi.[]



![[RANGKUMAN WAWANCARA] PKA: Pekan Kebudayaan, Apa Pasar Malam](https://portalsatu.com/wp-content/uploads/2023/02/Aceh-tradisi-gambar-hiasan.-@By-tla-with-labs.openai.com_.jpg)
