IA bernama Maghvirah Zuhra. Wanita cantik ini, kelahiran Kota Lhokseumawe, 20 Juli 1994 lalu.
Zuhra, demikian biasa ia disapa, memiliki bakat dalam mendesain. Ia suka mendesain busana-busana muslim yang semarak di kalangan remaja, anak-anak, dan dewasa. Hobinya mendesain busana ini dikarenakan ketertarikannya terhadap acara-acara televisi yang menampilkan hasil karya dari desaigner lokal dan luar negeri.
Saya suka mendesain sejak di bangku SD, Sekolah Dasar Negeri 1 Lhokseumawe. Saya sering mengikuti lomba menggambar tingkat Sekolah Dasar, kata Maghvirah Zuhra.
Katanya, saat itu banyak orang yang berkomentar bahwa hasil gambar memiliki imajinasi tinggi dan bernilai nilai estetika memikat hati siswa lainnya yang lemah soal menggambar.
Mereka rela membeli gambar karya saya dan mencontohnya sebagai tugas menggambar, katanya.
Putri pertama dari tiga bersaudara ini mengaku memiliki dukungan penuh dari kedua orangtua. Mereka juga selalu membangkitkan semangat sebagai peserta setiap lomba yang dia ikuti.
Ketika usianya lima tahun dan berstatus murid di Taman Kanak-kanak Siswa Arun, Maghvirah Zuhra mendapatkan prestasi juara III lomba busana muslim anak, dan juara harapan I kaligrafi.
Sebelum masuk SD Negeri 1 Lhokseumawe, Maghvirah Zuhra adalah siswi dari SD 2 Yapena Arun. Di SD 2 Yapena Arun, Maghvirah Zuhra menjadi peserta model busana muslim anak dan meraih tropi (piala) juara harapan I.
Dia juga pernah menjadi peserta dalam event menggambar karya tsunami yang dibuat oleh UNICEF pasca tsunami tahun 2005. Meskipun gagal menjadi 3 besar, Maghvirah menerima ikhlas kegagalan, dan terus mengasah bakatnya.
Di Kelas enam SD, Maghvirah Zuhra mengaku iseng mengikuti lomba menghias kerajinan 3 dimensi dan terpilih sebagai juara I tingkat kota Lhokseumawe. Dorongan guru menjadikan suplemen bagi kepercayaan diri, katanya.
Bakat mendesain yang dimilikinya semakin dikembangkan saat duduk dibangku SMP Negeri 1 Lhokseumawe, Maghvirah semakin giat dalam melatih kelenturan gerakan tangannya untuk menghasilkan desain busana yang natural dan hidup.
Bapak selalu mengajariku untuk bisa mandiri. Meskipun kita mampu, aku harus bisa hidup mandiri juga, bisa lah menambah uang jajan buat sekolah. Jadi kalau ada hasil karyaku yang menarik perhatian orang, katanya.
Kalau bisa itu nilai sebagaimana usahaku saat menciptakan karya, karena itu kan sudah menjadi hak cipta aku sendiri, jadi orang juga tidak bisa menggunakan hak ciptaku sesuka hatinya saja, Ujar Maghvirah Zuhra, putri pertama Zainal Abidin.
Maghvirah Zuhra juga Kelas satu SMK Maghvirah dipilih sebagai model peragaan busana kebaya Ibu-ibu PKK di Kantor Pendopo Lhokseumawe saat dia terdaftar sebagai siswa SMK.
Kejuaraan yang terus didapatkan Maghvirah Zuhra Juga menghantarkannya sebagai mahasiswi undangan ke gerbang Unsyiah. Awal perkuliahan Maghvirah Zuhra mengikuti ajang lomba kreasi hijab casual dari Sophie Paris, terpilih sebagai juara I.
Alhamdulillah, dapat juara I, awalnya cuma iseng-iseng aja, tapi gaK nyangka dapat juara. Dari kemenangan ini, sekarang aku bisa jadi guru dalam demo hijab Ibu-ibu yang bergabung di majalah Sophie Paris, honornya bisa buat nambah uang jajan kuliah lah, kata Maghvirah Zuhra sambil tertawa.
Keuletannya dalam menghiasi hijab, Maghvirah Zuhra sering memandu hijab Ibu-ibu aktif berkarir. Acara demo hijab ini digelar oleh perusahaan Sophie Paris Banda Aceh.
Imanjinasinya terus mengalir hingga Maghvirah Zuhra sukses pada event besar Fashion Show yang diadakan Disbudpar (Dinas Budaya dan Pariwisata) Banda Aceh. Dia terpilih sebagai juara harapan I desaigner muda Kota Banda Aceh. Desain busana muslimnya yang terinspirasi dari hiasan dinding Aceh Tengah yang melambangkan keberanian dan kesucian.
Harapan yang pingin kali dicapai, aku mau punya butik sendiri. Hasil desainku sendiri, jahitanku sendiri, produk yang aku ciptaan hasil keringatku sendiri lah, kata Maghvirah Zuhra, Mahasiswi FKIP PKK Unsyiah ini. [] (mal)
Laporan Maisarah Kim

