27 C
Banda Aceh
Minggu, Oktober 17, 2021

Mahalkah Berkurban Itu?

Oleh: Muhammad Syahrial Razali Ibrahim

Tulisan ini sengaja ditulis karena tidak lama lagi umat Islam akan menyambut datangnya Hari Raya Aidul Adha, atau dikenal dengan Aidul Qurban (Hari Raya Kurban Iduladha). Untuk sebagian besar masyarakat, ber-qurban (kurban) masih merupakan suatu yang “istimewa” dan “mewah”. Oleh karena itu, hanya segelintir dari mereka yang berkurban, yaitu orang-orang yang notabene berpunya atau beruang (mempunyai uang). Walaupun tidak dipungkiri, di antara sejumlah kurban yang ada, sebagiannya adalah milik orang miskin, namun jika dikuantifikasi jumlahnya sangat sedikit dan tidak seberapa.

Pernyataan di atas tidak menampik semangat berkurban sejumlah masyarakat yang kini mulai menggeliat di mana-mana, dan bisa dikatakan sudah lumayan untuk menyemarakkan hari raya terbesar dalam Islam. Akan tetapi, tetap saja nilainya sangat kecil jika dibandingkan dengan jumlah umat Islam Indonesia yang mencapai 220 juta jiwa lebih. Berdasarkan data dirilis Kementan RI tahun 2020, jumlah hewan kurban, baik itu jenis sapi atau domba tidak mencapai 2 juta ekor, atau tepatnya 1.8 juta ekor. Angka ini pastinya bukan angka riil, mengingat masih banyak masyarakat yang berkurban secara mandiri. Namun begitu, jumlah tersebut tidaklah fantastis. Masyarakat yang tidak berkurban masih jauh lebih banyak dari yang berkurban.

Belajar berkurban dari Alquran

Ada banyak faktor mengapa masyarakat kita masih sedikit yang mau berkurban, salah satunya karena merasa kemahalan. Lalu, apa benar kurban itu mahal? Jawabannya: Sama sekai tidak! Akan tetapi, secara faktual, banyak orang tetap saja merasa kemahalan. Maka pertanyaan selanjutnya, mengapa orang-orang merasa berkurban itu mahal? Menjawab pertanyaan ini al-Quran (Alquran) memberikan beberapa penjelasan ringan.

Pertama, karakter buruk manusia sebagai makhluk yang bakhil. Lihat surah al-Nisa’ ayat 128, juga firman Allah dalam surah al-Isra’ 100, “Katakanlah: “Kalau seandainya kamu menguasai perbendaharaan-perbendaharaan rahmat Tuhanku, niscaya perbendaharaan itu kamu tahan, karena takut membelanjakannya”, dan manusia itu sangat kikir”.

Kenyataan lain adalah karena setiap kali akan berinfak syaitan selalu saja menghalang-halangi keinginan tersebut hingga manusia membatalkan keinginannya. Hal ini difirmankan Allah dalam surah al-Baqarah 268, “Syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir)”.

Itulah mengapa setiap kali seseorang akan berinfak, selalu saja teringat dengan berbagai kebutuhan lainnya yang seakan-akan mendesak sehingga membuatnya urung berinfak. Padahal, saat ia menghabiskan banyak uang untuk urusan remeh temeh, ia tidak pernah teringat akan hal-hal penting, seperti kurban misalnya, atau bahkan keperluan primer sekalipun, seperti uang sekolah anak dan kebutuhan rumah tangga. Karena itu tak perlu heran jika isi celengan masjid selalu didominasi uang pecahan dan recehan.

Uraian singkat di atas memberi sedikit titik terang bahwa ketika orang-orang merasakan berat saat akan berkurban, hal itu bukan lantaran kurbannya yang mahal, tapi ia belum bisa keluar dari sifat dasarnya yang bakhil dan masih mudah digoda syaitan (setan).

Sebagian orang akan berdalih bahwa ia memang kesulitan dari segi ekonomi, bukan karena bakhil atau digoda setan. Jika memang begitu, idealnya orang tersebut tetap bisa berkurban, meskipun tidak setiap tahun, minimal lima tahun sekali atau sepuluh tahun sekali. Sehingga jika dia sudah mulai bekerja sejak umur 30 tahun, dan sekarang sudah berumur 60 tahun maka minimal sudah tiga atau enam kali berkurban.

Penulis meyakini, jangankan orang dewasa, anak-anak saja sebenarnya mampu berkurban, apalagi yang sudah remaja. Cukup bermodalkan uang jajan sehari 10 ribu. Jika tidak mampu berkurban setahun sekali minimal dua tahun sekali. Seseorang untuk bisa berkurban, ia hanya perlu menabung minimal 6000 rupiah sehari. Nah, di sini terlihat ada masalah lain yang tidak kurang rumitnya dengan persoalan di atas. Banyak orang sebenarnya malas menabung, dan pastinya tidak punya manajemen keuangan yang baik. Dalam Alquran surah al-Baqarah ayat 3 Allah berfirman tentang ciri orang bertakwa, yaitu “menafkahkan sebahagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka”.

Ayat ini dijelaskan oleh sebagian ulama tafsir, bahwa muttaqin itu adalah orang yang selalu menyisihkan hartanya untuk mereka infakkan. Penyisihan itu dilakukan pada saat pertama sekali harta itu diterima, bukan menunggu lebih. Karena kenyataannya manusia hanya merasa kurang, tidak pernah merasa lebih. Ayat di atas sejatinya bicara soal manajemen harta dan perencanaan keuangan (budgeting). Banyak umat Islam tidak terbiasa melakukan perencanaan keuangan dan tidak merasa penting, apalagi untuk urusan pribadi dan rumah tangga.

Soal budgeting seakan-akan hanya perlu untuk skala negara, propinsi dan daerah, tidak lebih dari itu. Padahal, banyak orang punya banyak uang dan bisa membelanjakannya pada banyak hal yang bermanfaat, namun karena minus perencanaan, akhirnya banyak hal tidak bisa terpenuhi dengan baik.

Firman Allah “sebahagian rezeki” menunjukkan bahwa untuk pendapatan kecil dan sedikit sekalipun mereka sisihkan. Dalam bahasa lain ada yang direncanakan pada setiap pendapatan mereka. Mereka sisihkan untuk A atau untuk B, walaupun jumlahnya minim. Inilah–barangkali–yang dimaksud pada firman Allah di surah Ali ‘Imran 134, “(orang bertaqwa itu adalah) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit…”. Mereka selalu memberi, baik saat lapang maupun sempit. Mereka selalu menyisihkan, saat mendapatkan sedikit maupun banyak.

Dari perencanaan keuangan seseorang akan tahu mana yang penting dan mana yang tidak. Secara otomatis akan ada skala prioritas dalam pengelolaan keuangan. Dia akan tahu kurban itu penting atau tidak, gonta ganti HP yang nilainya bisa lebih dari seekor kambing perlu atau tidak, atau menyisihkan uang untuk mengkonsumsi hal-hal lainnya. Lebih dari itu, orang dengan pendapatan sangat rendah sekalipun, atau dalam bahasa Alquran “orang-orang dalam keadaan sempit” kalau mempunyai perencanaan keuangan yang baik ia tetap bisa berkurban, walaupun tidak setiap tahun. Ia akan berusaha menyisihkan pendapatannya yang kecil dengan cara mencicil dan menabung. Karena jangankan orang dengan pendapatan rendah, orang kaya sekalipun, kadang-kadang akan merasa kemahalan jika dihadapkan pada nominal jutaan. Makanya menabung dari awal tahun, atau mencicil baik secara pribadi maupun melalui kelompok menjadi satu trik agar kurban terasa ringan dan murah.

Memotivasi diri

Namun ternyata, jika diterawang lebih mendalam, problemnya bukan pada penataan keuangan, tetapi lebih pada bagaimana seseorang bisa memotivasi dirinya agar mau berkurban. Berawal dari motivasi inilah muncul semangat untuk berbuat, soal budgeting hanya teknis saja, tidak lebih dari itu. Makanya jika dikembalikan pada surah al-Baqarah di atas, sebelum Allah menyebutkan tentang kebiasaan muttaqin (orang bertakwa), yaitu selalu berinfak, terlebih dahulu ditegaskan bahwa mereka adalah “orang-orang yang beriman kepada yang ghaib”.

Di sinilah ganjalan banyak orang walaupun semuanya membawa bendera Islam. Pahala dan dosa adalah sesuatu yang gaib. Hanya yang mampu melihat pahala dosa inilah yang sanggup memotivasi dirinya. Mudah baginya berbuat baik dan mudah pula meninggalkan perbuatan buruk.

Umat Islam lazimnya percaya pada yang gaib, mereka beriman adanya pahala dan dosa, tapi mengapa banyak orang justru menjauh dari pahala dan dekat dengan dosa. Seseorang ternyata tidak cukup hanya percaya, tapi harus yakin. Makanya pada ayat lanjutan, Allah berfirman, “mereka “yakin” akan adanya (kehidupan) akhirat”. Pahala dan dosa riilnya ada di akhirat bukan di dunia. Akan tetapi, bukan juga ngaku-ngaku yakin. Seseorang baru dikatakan yakin, ketika sesuatu yang diyakini mampu menggerakkan dirinya dari berbuat atau tidak berbuat. Tanda seorang anak yakin bahwa hantu itu ada, ia akan berlari ketakutan saat diteriakkan “hantu”.

Hantu yang ditakuti oleh anak-anak entitasnya tak pernah ada, tapi mengapa mereka takut? Lalu, mengapa manusia tak takut dosa dan abai terhadap pahala. Mereka biasa saja saat mendengar kata-kata surga dan neraka diteriakkan, padahal keduanya ada. Jawaban singkatnya: Semua perlu pembiasaan! Anak kecil menjadi takut pada hantu, lantaran setiap hari ditakut-takuti oleh orang tuanya. Seseorang jika ingin mendapatkan keyakinan dalam beragama, biasakanlah mampir ke masjid, sering-seringlah men-tadabburi Alquran, hadiri majelis ilmu yang mengingatkan dirinya kepada Allah dan akhirat, atau berteman dengan orang shalih. Itulah yang akan membuat iman tumbuh menjadi yakin, sehingga kebaikan yang beratpun menjadi ringan dikerjakan, apalagi soal kurban yang tidak seberapa. Wallahua’lam.

* Penulis adalah Dekan Fakultas Syariah IAIN Lhokseumawe, dan salah seorang Pimpinan Dayah Ma’had Ta’limul Qur’an (Mataqu) Ustman Bin Affan Lhokseumawe. Ia juga dikenal sebagai Teungku Balee, dan dai ternama di Lhokseumawe.

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

BERITA POPULER

Terbaru

Alhamdulillah, Kafilah Subulussalam Juara Umum MQK Tingkat Provinsi Aceh

SUBULUSSALAM - Kafilah Kota Subulussalam berhasil meraih juara umum pada event Musabaqoh Qiraatil Kutub...

Ini Respons Kuasa Hukum Dinas PUPR Soal Gugatan Rekanan Gedung Kesenian Lhokseumawe

LHOKSEUMAWE - Dinas PUPR Lhokseumawe belum memberikan penjelasan soal belum dibayarnya sisa pekerjaan 25...

Babak Kualifikasi Musabaqah Qiraatil Kutub II Aceh Tuntas

BANDA ACEH – Babak kualifikasi Musabaqah Qiraatil Kutub (MQK)-II Aceh yang digelar di Kompleks...

Kemal Attaturk Dinilai Tidak Pantas Dijadikan Nama Jalan di Indonesia

BANDA ACEH – Rencana pemerintah menabalkan nama tokoh sekuler Turki Kemal Attaturk sebagai nama...

Aceh Hari Ini: Rakyat Aceh Rebut Perusahaan Numora Jepang

Pada 16 Oktober 1945, perusahaan perkebunan Jepang, Numora yang mengelola sembilan perkebunan besar di...

Rekanan Pembangunan Gedung Kesenian Lhokseumawe Tahap II Gugat Dinas PUPR ke Pengadilan

LHOKSEUMAWE - Wakil Direktur III CV Muhillis & Co., Rustam (58), melalui kuasa hukumnya,...

Aceh dan Sumut Bersiap Helat PON 2024

PAPUA – Gubernur Aceh, Nova Iriansyah, diwakili Sekretaris Daerah Aceh, Taqwallah, bersama Gubernur Sumatera...

Pengacara Warga Krueng Luas Minta Polisi Tetapkan Bupati Aceh Selatan Sebagai Tersangka

BANDA ACEH - Muhammd Reza Maulana, S.H., kuasa hukum atau pengacara Jasman HR., warga...

Jabatan Keuchik Gampong Paya Bilie Lhokseumawe Lowong

LHOKSEUMAWE - Jabatan Keuchik Gampong Paya Bilie, Kecamatan Muara Dua, Kota Lhokseumawe, lowong. Pasalnya,...

‘Kasus Tanggul Cunda-Meuraksa Mangkrak Bisa Mencoreng Institusi Kejaksaan’

LHOKSEUMAWE – Pemerhati hukum, Muji Al-Furqan, S.H., turut menyoroti Kejaksaan Negeri Lhokseumawe yang hingga...

Aceh Hari Ini: Ulama Aceh Mengeluarkan Maklumat Perang Sabil

Pada 15 Oktober 1945, ulama Aceh menggelar muzakarah  membahas upaya-upaya mengakhiri kekuasaan Jepang, dan...

Program TMMD Selesai, Walkot Bintang Resmikan Jalan Tembus Darussalam-Singkohor

  SUBULUSSALAM - Wali Kota Subulussalam, H. Affan Alfian Bintang, S.E meresmikan pemakaian jalan tembus...

Kasus Korupsi di Dinas Syari’at Islam Gayo Lues Dilimpahkan ke PN Tipikor Banda Aceh

BLANGKEJEREN - Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri Gayo Lues telah melimpahkan berkas perkara...

Begini Kondisi Terkini Wastafel Disdik Provinsi di SMA/SMK Aceh Utara dan Lhokseumawe

ACEH UTARA – Pengadaan ratusan wastafel dan sumur bor oleh Dinas Pendidikan Provinsi Aceh...

Harga Kopi Gayo Naik Lagi, Ini Daftar Terbaru

BLANGKEJEREN - Harga gabah kopi gayo di Kabupaten Gayo Lues kembali mengalami lonjakan. Harga...

Kasus Tanggul Cunda-Meuraksa: ‘Tugas Kejari Menegakkan Hukum, Bukan Bicara Untung-Rugi’

LHOKSEUMAWE – LSM Gerakan Transparansi dan Keadilan (GerTaK) kembali mempertanyakan perkembangan kasus dugaan korupsi...

Aceh Hari Ini: Show of Force Pejuang Aceh Melawan Jepang

Usai salat hajat dan salat Jumat di Masjid Raya Baiturrahman, Residen Aceh Teuku Nyak...

UAS Resmikan Pesantren Darul Affani, Ziarah ke Oboh, Hadiri Peringatan Satu Dekade PMDR

SUBULUSSALAM - Ustadz Abdul Somad (UAS) meresmikan Pondok Pesantren Darul Affani Desa Harapan Baru,...

‘PLTU Lhoknga tak Beroperasi, PT SBA Berpotensi Rugikan Keuangan Negara 15 Miliar/Hari’

BANDA ACEH - Direktur Koalisi NGO HAM Aceh, Zulfikar Muhammad, menemukan data baru terkait...

Kempo Tambah Medali Emas untuk Aceh

SENTANI – Perjuangan keras kenshi (atlet kempo) di ajang Pekan Olahraga Nasional (PON) XX...
Butuh CCTV, dapatkan di ACEH CCTV. ALAMAT: Jln Tgk Batee Timoh lr Peutua II, Gampong (Desa) Jeulingke, Kecamatan Syiah Kuala, Kota Banda Aceh, Aceh. Kode Pos 23114. TLP/WA : 0822.7700.0202 (MUSRIADI FAHMI). Taqiyya Cake and Bakery, Tersedia: Brownies, Bolu pandan, Bolpis, Bolu minyak, Bolu Sungkish, Ade, Donat, Serikaya, Raudhatul Jannah (082269952496), Perum Gratama Residence No 5 Mibo Lhoong Raya Banda Aceh. Kunjungi Showroom Honda Arista. Jl. Mr. Teuku Moh. Hasan No.100, Lamcot, Kec. Darul Imarah, Kabupaten Aceh Besar, Aceh 23242. Hubungi: No Tlp/WA : 082236870608 (Amirul Ikhsan). Kunjungi Usaha Cahaya Meurasa/ Kue Kacang Alamat: Perumahan Cinta Kasih, Gampong (Desa) Neuheun, Kec. Masjid Raya, Aceh Besar. Tersedia Kue Malinda/Kacang dan Nastar. Hubungi TLP/WA: 085277438393 (Nurjannah) - Bimbel Metuah, Almt: Jl. Seroja No. 5, Ie Masen Kayee Adang, Ulee Kareng, Banda Aceh. HP/WA: 0823 6363 2969 (Ola). Instagram: @bimbelmetuah @metuah_privat