ACEH UTARA – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Malikussaleh (Unimal) Kelompok 100 mengadakan sosialisasi lingkungan, dengan tema ‘Pembuatan Biopori untuk Meningkatkan Resapan Air dan Pengelolaan Sampah Organik’. Kegiatan ini berlangsung di Desa Ujong, Kecamatan Samudera, Kabupaten Aceh Utara, dan diikuti oleh masyarakat setempat, Kamis, 6 Februari 2025.
Sosialisasi ini bertujuan untuk mengenalkan teknologi biopori sebagai solusi sederhana dalam meningkatkan daya serap tanah terhadap air, mengurangi genangan, serta mengolah sampah organik menjadi kompos. Mahasiswa KKN menjelaskan bahwa biopori tidak hanya bermanfaat bagi lingkungan tetapi juga dapat membantu mengurangi risiko banjir dan meningkatkan kesuburan tanah.
Penanggung Jawab Kegiatan, Mario Kristian Simbolon, menjelaskan biopori merupakan langkah kecil dengan dampak besar bagi lingkungan. “Dengan adanya lubang biopori, air hujan bisa lebih cepat meresap ke dalam tanah, sehingga membantu mengurangi risiko banjir dan memperbaiki struktur tanah. Selain itu, lubang ini juga bisa digunakan untuk mengolah sampah organik menjadi pupuk alami,” ujarnya.
Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), Yenny Novianti, S.T., M.T., yang mendukung penuh kegiatan ini menyampaikan harapannya agar ilmu yang dibagikan dapat bermanfaat bagi masyarakat. “Pembuatan biopori adalah langkah sederhana tetapi memiliki dampak besar dalam pengelolaan air dan lingkungan. Saya berharap masyarakat bisa menerapkan metode ini di sekitar rumah atau lahan mereka untuk menjaga keseimbangan ekosistem,” ujarnya.
Dalam sosialisasi ini, mahasiswa KKN memberikan pemaparan dan praktik langsung tentang cara pembuatan lubang biopori, yang meliputi:
Pertama, menentukan lokasi pembuatan. Mahasiswa menjelaskan bahwa biopori sebaiknya dibuat di area yang sering tergenang air atau di tempat yang banyak sampah organik, seperti halaman rumah, pekarangan, atau kebun.
Kedua, membuat lubang biopori. Dengan menggunakan lam, mahasiswa menunjukkan cara membuat lubang dengan kedalaman sekitar 80 cm dan lebar 4 inch.
Ketiga, mengisi lubang dengan sampah organik. Lubang biopori diisi dengan sampah organik seperti sisa makanan, daun kering, atau potongan sayur. Sampah ini nantinya akan terurai dan menjadi kompos alami yang menyuburkan tanah.
Keempat, perawatan dan pemanfaatan biopori. Dijelaskan pula bagaimana cara merawat biopori agar tetap berfungsi optimal, seperti rutin mengisi sampah organik dan memastikan tidak ada sumbatan.
Salah satu warga, Syakir, mengungkapkan ketertarikannya terhadap teknologi biopori ini. “Dulu kami sering mengalami genangan air setelah hujan, tapi setelah tahu manfaat biopori, kami akan mencoba menerapkannya di sekitar rumah,” ungkapnya.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKN Unimal berharap masyarakat dapat memanfaatkan biopori untuk menjaga lingkungan, mengurangi genangan air, dan mengolah sampah organik menjadi kompos yang bermanfaat.[](ril)





