ACEH UTARA – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Malikussaleh (Unimal) Kelompok 100 menggelar kegiatan sosialisasi tentang pengolahan dan pemasaran briket sebagai alternatif bahan bakar ramah lingkungan. Kegiatan ini berlangsung di Desa Ujong, Kecamatan Samudera, Kabupaten Aceh Utara, dengan partisipasi aktif dari masyarakat setempat, Kamis, 6 Februari 2025.
Sosialisasi ini bertujuan untuk mengenalkan proses pembuatan briket dari bahan limbah organik, yaitu tempurung kelapa dan bambu kering, serta strategi pemasaran yang dapat diterapkan agar produk briket bisa bersaing di pasaran. Mahasiswa KKN menjelaskan berbagai keunggulan briket, yaitu hemat biaya karena bisa digunakan sebagai alternatif pengganti LPG, daya bakar lebih lama, minim asap dan bau, dan berpotensi sebagai usaha.
Ketua Kelompok KKN 100, Aziz Nurazi, mengatakan kegiatan ini diharapkan dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat. “Kami ingin membantu masyarakat memahami peluang usaha dari briket, bukan hanya sebagai bahan bakar alternatif tetapi juga sebagai sumber pendapatan tambahan,” ujarnya.
Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), Yenny Novianti, S.T., M.T., memberikan dukungan penuh terhadap inisiatif mahasiswa KKN. Ia menekankan bahwa pemanfaatan briket sebagai energi alternatif dapat menjadi solusi bagi masyarakat dalam mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar gas dan kayu bakar.
Mahasiswa KKN juga memberikan demonstrasi langsung pembuatan briket, yang terdiri dari beberapa tahapan utama:
Pertama, pembakaran bahan limbah organik. Bahan baku utama seperti tempurung kelapa dan bambu yang sudah kering terlebih dahulu dibakar dengan metode pirolisis menggunakan drum atau tungku tanpa udara berlebih. Proses ini menghasilkan arang berkualitas tinggi yang akan dijadikan bahan dasar briket.
Kedua, penggilingan dan pencampuran. Setelah arang terbentuk, bahan tersebut digiling hingga menjadi serbuk halus. Serbuk arang kemudian dicampur dengan perekat alami, seperti tepung kanji, dengan perbandingan yang tepat agar briket memiliki daya rekat yang baik.
Ketiga, pencetakan briket. Campuran arang dan perekat kemudian dimasukkan ke dalam cetakan berbentuk tabung atau balok sesuai kebutuhan. Proses pencetakan ini bertujuan untuk menghasilkan briket dengan ukuran seragam agar lebih mudah digunakan.
Keempat, pengeringan. Briket yang telah dicetak selanjutnya dikeringkan di bawah sinar matahari atau menggunakan oven khusus hingga kadar airnya berkurang. Pengeringan ini penting agar briket memiliki daya bakar yang optimal dan tidak mudah hancur.
Kelima, pengemasan dan pemasaran. Setelah kering, briket siap dikemas dalam plastik atau karung agar lebih tahan lama. Mahasiswa KKN juga memberikan edukasi tentang strategi pemasaran, termasuk cara menjual briket ke pasar lokal, rumah tangga, hingga potensi pemasaran online.
Salah satu peserta sosialisasi, Alwi, mengungkapkan antusiasmenya terhadap kegiatan ini. “Kami sangat terbantu dengan adanya sosialisasi ini. Sekarang kami tahu cara membuat briket sendiri dan bagaimana cara memasarkannya,” ungkapnya.
Dengan adanya kegiatan ini, mahasiswa KKN Unimal berharap masyarakat dapat lebih memahami manfaat briket dan mengembangkan usaha kecil berbasis energi alternatif di desa mereka.[](ril)





