Dalam sufisme, cinta ilahi dianggap sebagai dasar dari semua keberadaan. Cinta ilahi adalah cinta yang tidak terkalahkan dan tidak terpisahkan antara manusia dan Allah SWT.

Kisah Laila dan Majnun dianggap sebagai metafora cinta ilahi ini. kisah ini disinyalir bersumber dari abad 7 Umayyah hingga tersebar sebagai sastra arab dan persia abad 10 dan 11 M. Tokoh sufi seperti Imam Alghazali dan Rumi sangat terinspirasi dengan kisah ini.

Majnun, yang berarti “orang gila” dalam bahasa Arab, dianggap sebagai simbol orang yang telah kehilangan dirinya dalam cinta kepada Allah SWT.

Cinta Majnun (nama aslinya Qais) kepada Laila dianggap sebagai cinta yang tidak terkalahkan dan tidak terpisahkan, yang mencerminkan cinta ilahi antara manusia dan Allah SWT.

Fana dan Baqa

Dalam sufisme, konsep “fana” (kehilangan diri) dan “baqa” (keabadian) sangat penting. Fana adalah kehilangan diri dalam cinta kepada Allah SWT, sedangkan baqa adalah keabadian yang diperoleh melalui cinta ilahi.

Majnun, yang telah kehilangan dirinya dalam cinta kepada Laila, dianggap telah mencapai keadaan fana. Namun, cintanya kepada Laila juga membuatnya mencapai keadaan baqa, karena cintanya telah menjadi satu dengan cinta ilahi.

Pengabdian

Dalam sufisme, pengabdian dianggap sebagai salah satu cara untuk mencapai cinta ilahi. Majnun, yang telah kehilangan dirinya dalam cinta kepada Laila, dianggap sebagai contoh pengabdian yang sempurna.

Majnun tidak memikirkan tentang dirinya sendiri, melainkan hanya memikirkan tentang Laila dan cintanya kepada Laila. Ini adalah contoh pengabdian yang sempurna, karena Majnun telah melepaskan dirinya dari semua kepentingan pribadi dan hanya memikirkan tentang cintanya kepada Laila.

*Kebersatuan dengan sifatNya *

Dalam sufisme, kebersatuan dengan sifat sifat Allah SWT, meneladani sifatNya, dianggap sebagai tujuan akhir dari semua pencarian spiritual,untuk mencapai RidhaNya.

Majnun, yang telah kehilangan dirinya dalam cinta kepada Laila, dianggap telah mencapai kebersatuan dengan sifat Allah SWT.

Cintanya kepada Laila telah menjadi satu dengan cinta ilahi, sehingga Majnun telah mencapai kebersatuan dengan cinta” Allah SWT.

Ini adalah contoh kebersatuan yang sempurna, karena Majnun telah melepaskan dirinya dari semua kepentingan pribadi dan hanya memikirkan tentang cintanya kepada Laila, yang telah menjadi satu dengan cinta ilahi.

Kisah kedua sosok imajiner ini melampaui kisah romeo dan julie (datang ratusan tahun kemudian di eropa) yang hanya menonjolkan nafsu rendah.

Sebagai Metafora:
Dalam keseluruhan, kisah Laila dan Majnun dianggap sebagai metafora cinta ilahi, fana, baqa, pengabdian, dan kebersatuan dengan Allah SWT.

Kisah ini telah menjadi inspirasi bagi banyak orang untuk mencari cinta ilahi dan kebersatuan dengan sifat sifat Allah SWT.[]