KEHADIRAN mahasiswa KPM Inovatif UIN Ar-Raniry di Desa Peulanteu Lb, Kecamatan Arongan Lambalek, Kabupaten Aceh Barat beberapa bulan lalu telah membawa perubahan dan dampak positif yang besar terhadap perempuan-perempuan di daerah tersebut.

Bagaimana tidak, program mereka yang fokus pada pemberdayaan ekonomi perempuan melalui kreasi pengolahan kerajinan eceng gondok, telah menghasilkan berbagai variasi produk seperti berbagai jenis tas, item barang rumah tangga serta jenis aksesoris lainnya. Pada akhirnya produk ini akan memiliki nilai jual yang tinggi untuk dipasarkan. Maka oleh karena itu, progam ini bisa memberikan kontribusi penting terhadap masyarakat setempat terutama untuk meningkatkan kemandirian ekonomi perempuan-perempuan desa dalam rumah tangga.

Pada dasarnya, Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) UIN Ar-Raniry ini ada tiga gelombang yang siap diterjunkan ke lapangan untuk merealisasikan program ini. Gelombang pertama bertugas membentuk Kelompok Usaha Produktif (KUP) yang benar-benar berkomitmen dalam berlatih mengasah skill pengolahan eceng gondok. Selanjutnya, pascadua bulan pembentukan kelompok usaha produktif oleh mahasiswa KPM gelombang I, mahasiswa KPM gelombang II kini yang mengambil alih untuk mengadakan berbagai pelatihan yang menjurus kepada personal softskill untuk mengikuti tahap-tahap pengolahan eceng gondok sampai jadinya berbagai jenis hasil produk.

Perlu diketahui bahwa proses pengolahan eceng gondok ini pada dasarnya tidak terlalu sulit dan juga tidak memakan waktu yang relatif lama. Namun, sewaktu-waktu kondisi cuaca yang hujan bisa menjadi kendala besar untuk tahap pengeringan. Seharusnya bahan tersebut akan kering maksimal setelah 5-7 hari dikeringkan. Sebelum eceng gondok dipotong sepanjang 3 sentimeter dengan skala yang memadai untuk sebuah produk.

Untuk memulai pembuatan sebuah produk, terlebih dahulu eceng gondok yang sudah kering ini dikepang sesuai teknik yang diajarkan oleh pelatih dengan jumlah sebanyak mungkin di rumah secara koperasional, agar tidak banyak menghabiskan waktu dalam sebuah rumah kelompok usaha produktif (KUP). Setelah itu dibuatlah beberapa desain cetakan/mal untuk berbagai jenis produk seperti berbentuk tas, kotak tisu dan lainnya untuk melanjutkan proses kepenganyaman. Produk yang hampir jadi ini, selanjutnya diawetkan (herbarium) dalam zat cair H2O2 agar tidak berjamur, bersih dan menjadi lebih tahan lama. Dan terkadang eceng gondok yang sudah dikepang sehingga menjadi tali sepanjang 20 meter tersebut dapat diawetkan terlebih dahulu sebelum masuk tahap menganyam. Maka tas hasil olahan eceng gondok yang merupakan hama dalam ekosistem sungai itu sudah bisa dikatakan sebuah produk ketika sudah diwarnai dan sudah diberi aksesoris pendukung untuk mempercantik tampilan agar dapat menunjang harga jual.

“Kita punya tiga KUP (Kelompok usaha Produktif) di tiga desa yang berbeda yaitu Desa Peulanteu Lb, Cot Jurumudi dan Kubu yang siap mengolah eceng gondok menjadi produk-produk atau aksesoris-aksesoris dengan nilai jual yang tinggi. Yang kita lakukan adalah memfasilitasi kegiatan pemberdayaan ekonomi perempuan agar mereka mandiri dan mempunyai potensi serta skill yang terdidik dalam produksi ini,” kata Iskandar, ketua kecamatan mahasiswa KPM.

Supervisor mahasiswa KPM UIN Ar-RAniry Desa Peulanteu, Ibu Zalikha M.Si, mengatakan kegiatan atau program ini adalah momentum yang luar biasa untuk perubahan masyarakat yang lebih makmur, dengan memanfaatkan serta mengolah tumbuhan yang sebelumnya dianggap hama yang tak bermanfaat yang banyak tersebar di sepanjang sungai yang melintasi desa – desa di Kecamatan Arongan Lambalek. Dan secara geografis Desa Peulanteu Lb ini termasuk salah satu desa yang sangat dipenuhi oleh eceng gondok di sungai-sungainya. Maka dari itu besar harapan dengan adanya bimbingan dan arahan dari mahasiswa peserta KPM INOVATIF Desa Peulanteu Lb, baik mahasiswa maupun masyarakat itu sendiri dapat menjadi lebih bersemangat menjalani program ini dengan maksimal dan berkelanjutan.

“Kami bersama kawan mahasiswa KPM Peulanteu Lb, bahagia melihat semangat perempuan-perempuan di sini dalam berusaha, tua ataupun muda sama saja, mereka sangat antusias. Mereka mau mendayung sampan atau bahkan membiayai orang lain untuk petik eceng gondok ini di tengah-tengah sungai. Harapan kami, ini menjadi pelajaran bagi desa-desa lain dalam memanfaatkan sumber daya apapun yang terdapat di alam agar menjadi suatu hal yang bermanfaat, bahkan sampah sekalipun dapat bermanfaat. Dan saya sangat berharap pemerintah daerah bisa membantu dan medukung penuh produksi agar terus berkelanjutan, sehingga kecamatan yang dulunya pernah terdata sebagai salah satu kecamatan termiskin di Aceh pada tahun 2015 menurut Bappeda, dapat menjadi lebih makmur dan sejahtera, dan tak lupa dengan berkurangnya tanaman eceng gondok yang hampir menutupi seluruh ekosistem sungai ini semoga dapat meminimalisir banjir tahunan ygan selalu melanda di kecamatan ini,” kata Hamli Akbar Pramulyana, Ketua KPM Peulanteu Lb yang juga merupakan seorang pekerja seni (tapeartist).[]

Vera Fitria