LHOKSEUMAWE – Massa tergabung dalam Aliansi Mahasiswa dan Masyarakat Pase menggelar aksi damai di depan Kantor Dewan Perwakilan Rakyat Kota (DPRK) Lhokseumawe, Senin, 1 September 2025.

Sebelumnya, para mahasiswa berkumpul di Museum Kota Lhokseumawe sekitar pukul 11.00 WIB, setelah itu mereka berjalan kaki menuju Kantor DPRK. Tiba di sana massa disambut Ketua DPRK Lhokseumawe, Faisal, Wali Kota Lhokseumawe, Sayuti Abubakar, Kapolres Lhokseumawe AKBP Ahzan, serta para rektor sejumlah universitas di halaman kantor dewan.

Turut hadir Danrem 011/Lilawangsa, Kolonel Inf Ali Imran, dan Dandim 0103/Aceh Utara, Letkol Arh Jamal Dani Arifin.

Aliansi mahasiswa tersebut terdiri dari Universitas Malikussaleh (Unimal), UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe, UNIKI, Politeknik Negeri Lhokseumawe, dan perwakilan masyarakat.

Para mahasiswa berorasi secara bergantian di Jalan Syekh Syamsuddin As-Sumatrani depan Kantor DPRK Lhokseumawe dengan tertib. Wali kota, ketua DPRK, dan kapolres tampak hadir di tengah kerumunan massa untuk mendengarkan aspirasi disampaikan mahasiswa.

Mereka membubarkan diri sekitar pukul 13.00 WIB, setelah Wali Kota Sayuti bersama Ketua DPRK Faisal menandatangani petisi disodorkan perwakilan mahasiswa. Aksi damai itu berjalan dengan lancar tanpa terjadinya gejolak massa.

Koordinator aksi, Robet Kamid, kepada wartawan mengucapkan terima kasih kepada unsur Forkopimda Lhokseumawe yang telah memenuhi permintaan mahasiswa aksi sesuai petisi yang telah ditandatangani saat demo berakhir.

“Alhamdulillah, teman-teman semua bisa mengikuti aksi secara tertib, dan damai. Karena sebelum melakukan pergerakan massa ini, kami juga menginstruksikan kepada seluruh aliansi mahasiswa dan masyarakat, kita tetap menyampaikan aspirasi dengan baik. Intinya, demo yang kita gerakkan ini tidak terprovokasi dari pihak manapun,” kata Robet.

Robet menambahkan dalam aksi tersebut para mahasiswa mendesak reformasi Polri dan copot Kapolri Listyo Sigit Prabowo. Menolak RUU KUHP dan penambahan lima Batalyon di Aceh, serta mengecam tindak kriminalitas terhadap pers.

“Kami juga menolak (kenaikan) Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) Lhokseumawe, serta kenaikan tunjangan DPR RI. Menolak pembuatan sejarah ulang Indonesia dan copot Menteri (Kebudayaan) Fadli. Selain itu, kami mendesak Pemerintah Aceh untuk segera menyelesaikan bonus atlet,” ungkap Robet Kamid.

Kapolres Lhokseumawe, AKBP Ahzan, mengucapkan terima kasih kepada massa aksi yang telah menyuarakan aspirasinya secara tertib dan berlansung kondusif sebagaimana diharapkan bersama.

“Aspirasi para mahasiswa itu direspons langsung oleh Wali Kota dan Ketua DPRK melalui petisi yang ditandatangani. Alhamdulillah, massa membubarkan diri secara tertib tanpa terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” ujar Ahzan.

Ahzan menyebut personel dikerahkan dalam pengamanan demo ini berjumlah 600 orang terdiri dari Polres Lhokseumawe, Brimob Bataliyon B Pelopor Jeulikat, dan satuan TNI.[]