BANDA ACEH – Konflik antarsuku di Papua belum terselesaikan setelah sekian lama berlangsung. Di antara beberapa daerah konflik, termasuk Kampung Kwamkinarama. Daerah terparah pertikaian mematikan itu ada di sekitar Kampung Ile Ale, Jalur Lima, dan Tunas Matowa.

Demikian kata mahasiswa asal Timika Propinsi Papua, Pandius, di Banda Aceh, 31 Agustus 2016. Mahasiswa Ilmu Politik Unsyiah ini mengatakan, konflik itu sudah merambah di sekitar tempatnya tinggal di Papua. 

“Ada 4 orang meninggal dunia baru-baru ini, termasuk kerabat saya. Perang yang baru terjadi itu persis di belakang rumah kami di sana. Kami ingin konflik itu selesai, bantulah kami menyelesaikan itu. Dan kami harap, pemerintah di sana untuk tidak menggratiskan pengobatan bagi orang yang terkena panah, selain itu memang harus digratiskan selalu,” kata Pandius.

Menurutnya, kalau seseorang terkena panah, diduga kuat terlibat perang antarsuku. Kalau setelah terkena panah diobati, katanya, begitu sembuh mereka akan berperang lagi, karena mereka berpikir racun di panah itu ada obatnya dan gratis.

“Harus ada pihak yang memutuskan mata rantai perang itu. Kami tidak bisa melalukannya sendiri,” katanya seraya menambahkan, mahasiwa Papua di Aceh diperkirakan berjumlah 46 orang, tersebar di Kota Banda Aceh dan Kota Lhokseumawe.

Sementara, laman liputan6.com, menyiarkan, pada Minggu malam, 25 Juli 2016 lalu, ratusan orang menyerang pemukimannya di Kampung Jile-Jale, Satuan Pemukiman (SP) III, Kota Timika.     

“Dorang (mereka) melakukan penyerangan sembarangan. Mama-mama banyak yang kena panah, ternak kami diambil dan dibunuh, bahkan rumah kami dibakar. Banyak warga yang lari ke hutan malam itu,” kata Mama Mira Kogoya (27) kepada Liputan6.com, saat ditemui di tenda pengungsiannya yang terletak di Lapangan Asrama Toli, Polomo Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua, pada Kamis (28/7/2016).

Pada pagi harinya, warga di kampung itu dikumpulkan dalam satu rumah warga untuk saling menjaga satu dan lainnya. Rata-rata yang berada di dalam satu rumah adalah perempuan dan anak-anak.

“Kami trauma, sebab biasanya bentrok warga tak seperti ini. Mereka menyerang siapa saja. Seharusnya yang diserang hanya kaum laki-laki, bukan anak dan perempuan dan mereka tak boleh memasuki kampung ini,” ujar Mira.

Akibatnya, ratusan warga di Kampung SP III mengungsi ke Sentani di Kabupaten Jayapura. Warga pun membeli tiket Timika-Jayapura dengan dana pribadi masing-masing dengan harga tiket per kepala sekitar Rp 800 ribu hingga Rp 1 juta. 

“Kami terpaksa melakukan pengungsian ke Jayapura, sebab belum ada jaminan keamanan di sana,” ucap Mira sebagaimana disiarkan.[]